Selasa, 01 April 2014
Laki-laki itu lagi!
Dadanya berdebar-debar.
Joanna lupa berapa kali sudah laki-laki itu datang ke toko ini, toko
yang menjual bunga dimana ia bekerja. Yang ia ingat, laki-laki itu
selalu hanya datang, melihat-lihat dan bertanya. Itu saja. Tapi tak
membeli apa-apa.
Seperti yang seharusnya dilakukannya, ia sudah menyambut dengan cara
terbaik pada setiap orang yang datang. Ia pun melakukannya pada
laki-laki itu. Memperlihatkan wajah terbuka, senyum keramahan penuh rasa
hormat, menemaninya melihat-lihat dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya
tentang bunga. Ia melakukannya pada mungkin ratusan orang yang telah
datang, dan ia senang hati melakukannya. Ia sudah terbiasa sejak bekerja
disana, dan ia merasa begitulah seharusnya orang yang melakukan
pekerjaan menjual. Seringkali orang menjadi semakin ingin membeli ketika
ia menemukan sesuatu yang diinginkan atau sesuatu yang dibutuhkan
mendapat penghargaan dari seseorang yang menjualnya, yang mampu membuat
kesan sesuatu itu sedemikian bernilai dimana ia memang pantas
membelinya, dan begitulah seharusnya. Keinginan akan menjadi semakin
kuat ketika ia menemukan penghargaan pada dirinya, tulus dari seseorang
yang menjualnya.
Semua orang yang datang membeli bunga pada akhirnya, tapi tidak
dengan laki-laki itu. Ia hanya datang dan datang saja. Mula-mula Joanna
berpikir tentang apa yang mungkin belum dilakukannya yang bisa membuat
laki-laki itu kemudian memutuskan untuk membeli bunga.
‘Aku sudah melakukannya, dan tak pernah gagal pada orang lainnya.’ Demikian ia menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
Ia berkesimpulan, laki-laki itu barangkali tak punya cukup uang, atau
mungkin ia belum terbiasa membeli bunga untuk sesuatu, tapi ia ingin
mencobanya. Atau, ia memang datang bukan untuk membeli bunga. Lalu untuk
apa? Untuk membuatnya merasa sia-sia saja melakukan pekerjaannya
menjual bunga dengan cara terbaik?
Beberapa waktu sebelumnya ketika ia tak juga menemukan jawaban
tentang pertanyaannya sendiri mengenai apa sebenarnya keinginan
laki-laki itu, selalu datang tapi tak membeli apa-apa, ia mulai merasa
kesal.
Siang ini Joanna sudah merasa kesal begitu ia menangkap bayangan
laki-laki itu memasuki pintu, berjalan tenang dengan kedua tangan
dimasukkannya ke dalam saku jaket seperti biasa dan kembali berkeliling
melihat-lihat.
“Boleh saya bertanya?” Joanna mendekat. Ia menahan rasa kesal yang
sejenak sudah terbit dan menyembunyikannya di balik senyum ramahnya
seperti biasa. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa ia tak mengulas
senyum dengan setulusnya pada tamu di toko bunga ini.
“Silakan.” Sahut laki-laki itu. Seperti biasa, datar dan tanpa ekspresi apapun.
“Apa yang sebenarnya anda inginkan datang ke sini?”
“Saya ingin membeli bunga.” Jawab laki-laki itu tenang dengan suara tanpa tekanan.
Membeli bunga katanya? Apakah ia lupa bahwa ia selalu hanya merepotkanku dalam setiap kedatangannya?
“Anda belum membelinya sejak pertama kali anda datang.” Kata Joanna. Ia
ingin laki-laki di depannya tak melupakan hal itu. Perkataannya mungkin
akan melukai perasaan laki-laki itu, tapi ia tak ingin merasa bersalah
karena mengucapkannya. Laki-laki itu harus tahu.
“Saya akan membelinya pada saat yang tepat.”
Jawaban aneh, pikir Joanna. Seharusnya ia tahu kapan saat yang tepat. Untuk apa ia datang jika ia tahu saatnya belum tepat.
“Saya berharap sekarang ini adalah saat yang tepat!” Kata Joanna. Ia
mencoba membicarakan kemungkinan-kemungkinan baik untuk mengurangi
kekesalan dalam hatinya yang terus berduyun-duyun.
Laki-laki itu menggeleng. Joanna menghela nafas, sia-sia ia menahan
dirinya. Laki-laki itu tak seperti kelihatannya, tenang, tapi membuatnya
kesal.
“Setiap saat adalah saat yang tepat, tapi saya merasa akan sia-sia saja.” ujar laki-laki itu lagi.
Kenapa kau tak keluar saja, menjauh dari toko ini? Apa kau tak tahu kau
mulai membuatku merasa kesal? Aku mengerahkan segala rasa hormat tapi
kau menukarnya dengan kata-kata aneh, kau pikir itu kata-kata yang
bagus? Kata-kata yang menyenangkan menurutmu? Kau tahu, itu konyol sama
sekali!
“Sia-sia? Anda yakin akan sia-sia saja?”
“Benar! Kadang saya memutuskan untuk mengirim padanya bunga, agar ia
tahu saya memiliki mimpi untuk memiliki hatinya.” Kata laki-laki itu
tepat pada saat Joanna beringsut dan memutuskan untuk membiarkan saja
laki-laki itu sampai ia bosan sendiri dan melangkah keluar dari toko
ini. “Tapi saya merasa akan sia-sia saja!”
Langkah Joanna terhenti oleh kata-kata itu.
“Bukankah menundanya akan membuat mimpi anda lebih sia-sia? Tentu tak
hanya anda seorang yang memiliki mimpi untuk memiliki hati seseorang itu
bukan?” Joanna mencoba memberinya gambaran, agar laki-laki itu segera
berkeputusan. Membeli bunga atau tidak, ia tak peduli lagi.
Tapi, berhentilah membuatku kesal, orang lain yang datang nanti akan
ikut merasakan kekesalanku, mereka akan mendapat kesan tak baik, dan itu
tak baik untuk toko ini.
“Ya!”
“Bagi saya tak menjadi masalah kalau pun anda tak jadi membeli bunga,
tapi mungkin akan menjadi masalah bagi mimpi anda. Bukan tentang bunga,
tapi tentang memberitahu mimpi anda padanya. Anda tak harus
mengungkapkannya dengan bunga jika anda memang tak ingin membelinya!”
“Saya pertama kali melihatnya sungguh terkesan, saya tak percaya tentang
cinta pada pandangan pertama. Bagaimana mungkin baru melihat saja
seseorang bisa jatuh cinta! Tapi saya mengalaminya, saya memikirkannya
dan setiap hari saya pergi ke tempat di mana pertama kali saya bertemu
dengannya.” Laki-laki itu bercerita.
“Sebaiknya temui saja seseorang itu, menceritakannya pada saya akan
sia-sia saja!” Sahut Joanna. “Saya mungkin bisa membantu kalau anda
bertanya tentang bunga apa yang paling tepat untuk anda beli dan anda
gunakan untuk mengungkapkan cinta pada pandangan pertama anda pada
seseorang itu!”
“Bunga apa yang paling tepat menurutmu?”
“Saya sudah memberitahu pada anda sebelumnya bukan? Anda akan
menanyakannya itu terus menerus sedangkan anda sama sekali tak
membelinya?”
“Maafkan saya, tapi saya akan membelinya suatu saat, saya tak tahu kapan
persisnya, tapi saya akan membelinya dan memberikan padanya.” Kata
laki-laki itu. “Saat itu adalah saat yang tepat dan itu tak akan
sia-sia!”
“Saran saya adalah, jangan terlalu lama menundanya, meskipun tanpa
menundanya sekalipun bukan berarti mimpi akan pasti tergenggam. Tapi
setidaknya anda tak terlambat! Anda takkan bisa melakukan apa-apa lagi
jika seseorang itu telah dimiliki orang lain!”
“Saya tak terlalu berharap dengan mimpi itu, tapi saya ingin
memberitahunya tentang mimpi itu sendiri pada saat yang tepat, agar saya
tak membuatnya sia-sia!”
“Saya tak mengerti maksud anda!” Joanna mulai tidak sabar. Kata-kata
laki-laki itu tak masuk akal. Rasanya laki-laki itu tak berani untuk
mendekati seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta. Ia hanya
kebingungan dengan keinginannya.
“Maaf, telah membuat ketidaknyamanan di sini. Ketika semuanya sudah tak
mungkin, saya tak akan melakukannya. Tapi percayalah, saya akan membeli
bunga suatu ketika!” Laki-laki itu mengangguk sedikit, lalu berbalik dan
berjalan menuju pintu, lalu keluar.
Terserah, kau mau membelinya atau tidak! Lebih baik kalau kau tak datang
lagi! Batin Joanna memekik menumpahkan kekesalannya. Ia lalu
menghampiri kursi dan duduk.
Selama berhari-hari Joanna kehilangan semangat untuk bekerja.
Laki-laki itu pasti akan datang dan datang lagi. Berbicara tak keruan
dan membuat suasana jauh dari menyenangkan seperti pada saat laki-laki
belum datang.
Tapi sejak kedatangan terakhir yang membuatnya sangat kesal, laki-laki
itu belum datang lagi. Sedikitnya Joanna merasa senang, orang-orang yang
datang membeli bunga untuk bermacam keperluan mereka semuanya
menyenangkan dan ia melayaninya dengan senang hati.
Hingga terlewat waktu sebulan, laki-laki itu tak datang lagi. Joanna
lega, meski kadang ketika siang datang ia masih takut laki-laki itu akan
datang lagi.
“Selamat siang, mau membeli bunga apa?” Joanna bertanya pada seorang
perempuan cantik yang baru saja masuk dan melihat-lihat bunga-bunga yang
dipajang. Perempuan itu tersenyum padanya. Senyumnya manis sekali.
“Saya ingin sekali membeli mawar ini!” Sahut perempuan cantik itu menunjuk setangkai mawar merah.
“Pasti anda akan memberikannya pada suami atau pacar anda.” Kata Joanna disertai senyum untuk menyenangkan hati pembelinya.
Perempuan cantik itu tertawa kecil.
“Anda selalu tahu!” Katanya sambil mengerling pada Joanna dan tetap
dengan senyumnya. “Tapi, sebelumnya saya ingin sekali bertanya, mungkin
anda tahu, atau ingat sesuatu!”
“Dengan senang hati, kalau saya tahu, atau ingat sesuatu yang anda
maksud.” Sahut Joanna. Ia menyodorkan sebuah kursi plastik pada
perempuan cantik itu.
“Silakan duduk!”
“Terima kasih!”
Perempuan cantik itu lalu duduk. Joanna mengambil kursi berbeda dan kini mereka duduk berhadapan.
“Apakah pernah ada seorang laki-laki datang ke sini? Maksud saya dia
masih muda dan hampir setiap hari datang ke sini?” Tanya perempuan
cantik itu. Joanna berusaha menyembunyikan ekspresinya yang terkejut
sebenarnya. Semoga laki-laki yang dimaksud perempuan cantik itu bukan
laki-laki menyebalkan itu. Ia baru beberapa hari bisa tenang dan
menemukan kembali mood-nya bekerja setelah selalu merasa terganggu oleh
kedatangan laki-laki itu.
“Saya tak tahu siapa yang anda maksudkan, tapi mungkin saya bisa mengingat orang-orang yang sering datang ke sini.” Kata Joanna.
“Dia bercerita bahwa dia setiap hari datang ke sini, tapi ia tak membeli bunga, hanya melihat-lihat saja!”
Benar, dia menanyakan laki-laki itu. Ada apa dengan perempuan cantik itu?
Hei, mungkin ini seseorang yang dimaksud laki-laki itu? Seorang
perempuan cantik yang telah membuat laki-laki itu jatuh cinta tepat pada
pandangan pertama? Ia mengerti sekarang, mungkin laki-laki itu telah
berhasil mendekati seseorang itu, ya, perempuan cantik ini!
Artinya laki-laki itu takkan merepotkannya lagi hanya karena
kebingungannya sendiri. Mungkin ia memikirkan kata-kataku dan sekarang
telah berhasil mendapatkan pujaan hatinya. Mungkin laki-laki itu
bercerita pada perempuan cantik ini betapa selama berhari-hari ia
kebingungan di toko bunga. Pasti lucu sekali.
“Saya tak tahu persis, tapi apakah anda menanyakan seorang laki-laki
yang mengenakan jaket baseball dan berambut agak panjang?” Tanya Joanna.
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum. Di mata Joanna perempuan cantik
itu terlihat senang sekali. Tentu sebuah kisah luar biasa tengah mulai
mereka jalin saat ini.
“Ya, benar sekali! Ia memang sering datang kemari kira-kira dua atau
tiga bulan lalu?” Wajah perempuan cantik itu sepertinya ingin sekali
tahu. Mungkin perempuan itu ingin bersenang-senang dengan cerita tentang
laki-laki yang memujanya dariku? Tentang yang dilakukannya di sini
selama ini?
“Maafkan saya!” Ujar Joanna. “Di hari terakhir dia datang, saya merasa
sangat kesal. Karena dia hanya selalu bertanya atau bercerita saja. Saya
harus mengakui bahwa saya terganggu sebenarnya. Saya berusaha
melayaninya dengan baik, tapi saya merasa dia sangat merepotkan saya.
Kadang saya memang tak selalu bisa berhasil menghadapi setiap orang yang
datang ke sini.”
Perempuan cantik itu tersenyum.
“Maaf soal sikap saya ini.” Kata Joanna.
“Tak apa. Saya sangat bisa mengerti, terkadang begitulah seseorang yang
jatuh cinta, sulit untuk tak berbuat bodoh.” Sekali lagi perempuan
cantik itu tersenyum. “Anda tahu, itu tak mudah baginya. Membuat anda
merasa tidak nyaman bukan keinginannya, tapi itu bukan tanpa alasan.”
Kata perempuan cantik. Joanna menyembunyikan kebingungannya akan
kata-kata perempuan cantik itu yang sama sekali tak dimengertinya.
“Dia akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya pada anda?” Tanya Joanna.
“Maaf, maksud anda?” Perempuan cantik itu balas bertanya.
“Dia bercerita tentang cinta pada pandangan pertama, tentang mimpinya
untuk memiliki hati seseorang. Ia ingin mengirim bunga pada anda, tapi
ia tak tahu kapan saat yang tepat. Menurut saya mungkin dia tak cukup
memiliki keberanian untuk mendekati anda dan mengungkapkan semuanya.”
Ujar Joanna. “Melihat anda, saya bisa mengerti kenapa bisa begitu. Saya
pikir mendekati wanita secantik anda membutuhkan keberanian bagi seorang
laki-laki.”
“Mendekati saya?” Perempuan cantik itu tampak keheranan.
“Saya pikir seseorang yang diceritakannya itu anda, bukan begitu?” Joanna menegaskan.
“Sebenarnya tidak!” Perempuan cantik itu membetulkan kembali posisi
duduknya. “Begini, saya datang memang ingin menceritakan sesuatu tentang
dia.”
Menceritakan sesuatu tantang dia padaku? Untuk apa? Joanna merasa perempuan di depannya itu aneh.
“Maaf, saya tak tahu, tapi, apakah itu penting untuk saya?”
“Ini memang tentang anda!” Jawab perempuan cantik.
“Tentang saya?”
Perempuan itu mengangguk. Joanna merasa keheranan. Apa maksud perempuan cantik itu sebenarnya. Ia tiba-tiba merasa tak nyaman.
“Saya tak memiliki urusan apa-apa dengan dia, bagaimana mungkin
tiba-tiba anda berbicara mengenai saya. Saya pikir ini tentang anda dan
dia!”
“Ini memang tentang anda. Laki-laki itu membicarakan tentang seseorang dan sebenarnya, seseorang itu adalah anda!”
“Saya?”
Kembali perempuan cantik itu mengangguk.
“Tidak mungkin!” Sahut Joanna. “Anda salah orang!”
“Tidak mungkin saya salah!” Kata perempuan cantik. “Ini toko bunga Andalusia Florist, bukan?”
“Ya, benar!”
“Maaf, mungkin ini adalah sesuatu yang konyol. Pada mulanya saya juga
menganggapnya begitu ketika dia mulai bercerita tentang seorang gadis di
toko bunga Andalusia Florist.”
Joanna merasakan dadanya berdesir-desir mendengar ucapan perempuan
cantik itu. ia benar-benar merasa tak nyaman sekarang. Dulu laki-laki
menyebalkan, sekarang seorang perempuan cantik yang aneh. Apakah mereka
memang ingin bergantian untuk membuatku kesal?
“Maaf, tapi saya benar-benar tidak mengerti!” Joanna mulai berpikir
lebih baik jika perempuan itu pergi saja. Tak membeli bunga bukanlah
sebuah masalah besar bagi toko ini, tapi membeli satu bunga dan
meninggalkan kegelisahan jelas suatu masalah.
“Laki-laki itu adalah kakak saya!” Perempuan cantik itu menatap Joanna
lekat-lekat. “Dia bercerita bahwa suatu hari dia melintas di depan toko
ini dan melihat anda sedang menata bunga di luar. Dia mengatakan tak
bisa menahan diri untuk datang setiap siang ketika beristirahat, karena
dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anda!”
Jelas sekarang, ia salah menduga. Tapi Joanna merasa malas untuk
berpikir, kecuali satu kesimpulan saja bahwa laki-laki itu memang aneh,
laki-laki pengecut. Ia tak menyesal dengan rasa kesal padanya. Pasti ia
seorang pecundang yang selalu banyak alasan.
Sekarang ia menyuruh adiknya untuk mendekatiku? Laki-laki macam apa itu?
Joanna berjanji dalam hatinya sendiri akan membiarkannya kalau ia
datang lagi kesini. Kapanpun, besok, atau lusa, atau… terserah!
“Saya rasa, saya harus kembali bekerja!” Kata Joanna akhirnya. Perempuan itu mencegahnya berdiri dengan memegang tangannya.
“Maaf kalau anda mendapat kesan kurang menyenangkan dari kakak saya.” Kata perempuan cantik.
“Anda selalu menolong kakak anda kalau ia ingin mendekati seseorang?”
Tanya Joanna sedikit sinis. Sulit dipercaya seorang laki-laki menyuruh
adik perempuannya untuk mendekati seorang gadis yang dimimpinya.
“Kakak saya telah divonis dokter bahwa umurnya mungkin tak lama lagi.
Saat itu ia masih kuliah. Tapi entahlah, vonis dokter kadang bisa
kebetulan sama dengan apa yang digariskan Tuhan melalui takdirnya, tapi
seringkali salah! Kakak saya ternyata bertahan sampai ia bekerja, ia
membiayai kuliah saya, dan dia sendiri kuliah lagi. Kanker otak yang
menghantuinya tak membuat semangatnya bekerja hilang. Ia bahkan
terlampau bersemangat, dan seringkali ia lupa bahwa ia mengidap penyakit
mematikan dan semestinya dia juga memperhatikan dirinya.” Perempuan itu
bercerita. Joanna mendengarkannya setengah hati saja. Apa yang menarik
dari cerita itu? Drama yang sudah sering didengarnya.
“Penyakit itu tak mampu menggerogoti juga semangat hidupnya. Tapi tentang cinta, penyakit itu membuat penderitaan lain baginya.”
Perempuan itu diam sejenak. Memandangi Joanna mencari-cari sesuatu. Apa yang dia cari? Kau akan menemukan tumpukan kekesalanku!
“Jika membicarakan tentang masa depan, seakan ia akan hidup jauh lebih
lama dari orang lain yang sehat sekalipun. Tapi ketika membicarakan
tentang cinta, ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar tak punya
harapan hidup lagi. Ya, penyakit itu membuat ia memilih meninggalkan
kekasihnya.”
Joanna memilih diam mendengar lanjutan cerita tentang laki-laki itu.
Baginya perempuan itu tak lebih dari seseorang yang tengah mempromosikan
sesuatu. Tepatnya sesuatu yang dramatis. Barangkali untuk menarik
simpatinya, atau, ah! Orang selalu memiliki akal. Teruskan saja, tapi
maaf kalau aku tak tertarik. Rasanya itu bukan sesuatu yang seharusnya.
“Ia selalu mengatakan pada saya bahwa ia merasa tenang dengan
menyibukkan diri tenggelam dengan pekerjaan. Ia merasa akan hidup lebih
lama. Ia mulai mencoba melupakan hatinya sendiri yang kosong.
Membiarkannya kosong selalu lebih baik, sebab ketika hatinya terisi, ia
kembali pada sebuah pemikiran yang terlanjur tertanam di hatinya, ia tak
mempunyai banyak waktu hingga saat ajalnya datang!”
“Suatu malam ia bercerita tentang seorang gadis di toko bunga. Ia
berkata bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia merasa
sangat sedih, tapi juga bahagia! Sedih karena di hati yang telah
dibiarkan kosong dan mana ia menutup rapat-rapat, tiba-tiba dimasuki
seseorang yang menggetarkannya. Tapi juga membuatnya merasa bahagia.
Saat itu ia mulai berkata bahwa ia mungkin takkan lebih lama lagi
bertahan. Ia meminta pada saya untuk menemui anda ketika dia telah
meninggal, membeli bunga dan menceritakan semuanya. Saya sedikit merasa
kesal dengan perkataannya yang mendahului kehendak Tuhan menurut saya.
Tapi, dia memang unfall untuk yang terakhir kali dan dia benar-benar
pergi!”
Laki-laki itu telah meninggal?
“Ya, ia telah meninggal!” Kata perempuan cantik itu seakan tahu
pertanyaan dalam hatinya. “Ia berkata, kalau aku mendekatinya, apapun
akan sia-sia saja. Ia memilih datang setiap siang sekedar untuk melihat
anda.”
—
Joanna tercenung. Ia masih belum bisa melupakan perempuan cantik yang
datang kemarin hari dengan ceritanya yang masih sulit untuk bisa
dimengerti. Perempuan itu akhirnya membeli setangkai mawar lalu
memintanya untuk menerima bunga itu sendiri dan sepucuk surat.
Aneh, tapi ia tak bisa menolaknya.
“Seperti yang telah saya janjikan, saya membeli setangkai mawar. Saya
hadiahkan mawar itu untuk seorang gadis di toko bunga ini. Saya merasa
bersalah membuatnya tak nyaman untuk waktu yang cukup lama. Maafkan
saya.
Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan hati gadis di
toko bunga. Tapi, sungguh tak adil kalau saya berusaha mendekati seorang
gadis dan mati-matian untuk membuatnya jatuh cinta dan memiliki
hatinya, tapi setelah itu saya hanya akan membuatnya kecewa. Itulah
kenapa saya katakan sia-sia saja saya mengungkapkan keinginan saya
memiliki hati gadis di toko bunga.
Sedikit saya ceritakan, saya telah divonis dokter takkan hidup lebih
lama lagi. Saya telah meninggalkan kekasih saya karena saya tak ingin
membuatnya merana kehilangan, jika tiba-tiba saya mati. Tak bijaksana
bukan jika saya berusaha memiliki hati gadis di toko bunga itu,
sedangkan itu hanya akan membuatnya kehilangan?
Maaf atas kesan kurang baik saya dalam setiap kedatangan saya. Saya
ingin anda mendapat kesan itu. Karena saya telah jatuh cinta pada gadis
di toko bunga. Jatuh cinta adalah sesuatu yang sangat indah. Membuat
lupa segalanya, bahkan terkadang membuat seseorang menjadi berbuat
bodoh. Maafkan atas kekonyolan ini!”
Ini memang konyol sekali.
Joanna melipat kembali surat dari laki-laki yang dibawa oleh
perempuan cantik itu. Ia berharap hari segera berganti dan ia tak ingin
mengingat-ingat lagi. Tentang laki-laki yang selalu datang di toko
bunga.


0 komentar:
Posting Komentar