Selasa, 01 April 2014
Malam ini adalah malam terakhirku berada di rumah kakek, setelah
memasukkan pakaian dan barang barang yang akan kubawa pulang ke dalam
tas ransel, aku melangkah ke luar kamar dan langsung berjalan keluar
rumah. Di bangku panjang yang ada di samping rumah saya duduk sambil
memandang langit yang terang benderang bermandikan cahaya purnama.
Sedang asyik asyiknya menikmati keindahan bulan purnama, kudengar suara
canda tawa gadis gadis desa dari arah barat, tak berapa lama melintaslah
rombongan gadis gadis itu di jalan yang ada beberapa meter dari tempat
dudukku Beberapa saat salah seorang dari mereka menatap ke arahku.
melempar senyum kemudian menunduk dan berjalan meneruskan langkahnya
bersama teman temannya.
Aku masih duduk di bangku sambil menatap ke arah rombongan gadis
gadis yang semakin jauh, seraut wajah imut dan senyum simpul gadis
berkerudung putih itu selalu menari nari di depan mataku.
Pertama kali aku bertemu gadis itu ketika aku sedang membeli sabun
mandi di warung yang ada di sebelah barat rumah kakekku seminggu yang
lalu, waktu itu warung yang menjual segala keperluan sehari hari itu
sepi tidak ada penjaganya dan aku pun memanggil dengan suara agak keras.
“Bu… bu.. bu…!” panggilku setengah berteriak, tak berapa lama
kudengar langkah kaki dari bagian dalam warung itu, dan… betapa
bergemuruh hatiku ketika melihat seorang gadis berkerudung putih yang
keluar dari ruang dalam warung itu Sudah sering aku melihat gadis cantik
tapi entah mengapa ketika aku bertemu pandang dengan gadis ini ada
getar getar aneh yang menjalar tak karuan dalam hatiku.
Wajahnya yang imut, senyum manis dipadu dengan lesung pipinya semakin
membuat aku terpana, entah sudah berapa lama kami hanya diam beradu
pandang.
“Beli apa dik” suara itu membuat kami tersadar, kulihat seorang
wanita setengah baya sudah berada di samping gadis berkerudung putih
itu, “beli sabun mandi bu” jawabku tergagap, entah mengapa mukaku terasa
begitu panas dan sekilas kulihat kedua pipi gadis itu berubah menjadi
kemerah merahan.
Sejak saat itulah kami selalu saling curi pandang ketika bertemu,
walaupun sampai saat ini kami berdua belum pernah berbicara walau hanya
sepatah kata.
“He…! Ngelamunin siapa malam malam begini nanti kesambet lho…!” kata bulik rini membuyarkan lamunanku.
“Ah bulik ini ngagetin aryo saja” kataku sambil menoleh ke arah bulik
rini yang berjalan menghampiriku Setelah duduk di sebelahku bulik rini
berkata
“Dia itu namanya shinta dari jakarta keponakan om agus yang buka
warung kelontong itu lho, dia sudah dua bulan disini sedang praktek
menjadi dokter kandungan, kalau kamu suka bisa bulik bilangin ke dia,
kelihatannya dia juga suka sama kamu atau kamu bisa buat surat untuknya
disertai sebuah hadiah, besok kamu berikan sebelum kamu pulang ke
rembang”.
“Bulik ini ngomong apa sih… apa jangan jangan bulik yang lagi kesambet ya…?” Kataku pura pura tidak tahu.
Bulik rini tersenyum memandangku, rambut panjangnya yang agak
keriting bergoyang mengombak diterpa semilir angin malam “Bulik juga
pernah muda yo… bulik tahu apa yang kamu rasakan… mumpung dia masih
sendiri jangan lama lama nanti disambar orang baru tahu rasa” kata bulik
rini, sesaat kemudian bulik rini beranjak menuju ke dalam rumah.
“Untuk saat ini biarlah cintaku dan cintamu tumbuh dan bersemi dalam
hening dan sunyinya kediaman, nanti bila saatnya tiba aku ingin cinta
kita menggema memenuhi ruang dalam dunia ini” kata batin sekaligus doaku
dalam hati.
Sejenak ku lihat bulan purnama yang bercahaya semakin terang dan
indah, seterang dan seindah hatiku yang sedang ditumbuhi bunga bunga
cinta.
Cerpen Karangan: Aryo Robeth Elmuna


0 komentar:
Posting Komentar