Selasa, 01 April 2014
Sahabatku Daffa ya aku sangat menyukainya. Aku selalu membantunya jika dia ada kesulitan. Saat itu dia sms aku.
From: Daffa
To: Saya (Lisa)
Lis aku akan berusaha menjadi yang lebih baik. Aku mau berubah menjadi anak yang lebih pintar.
From: Saya
To: Daffa
OMG! kamu gak mimpi kan? Ya Allah AMin ya Daffa semoga kamu bisa! Keep
Spirit Daffa. Tapi kamu harus inget Daffa perubahan itu tak semudah
membalikan telapak tangan.
From: Daffa
To: Saya (Lisa)
Oke Lis. Thank ya.
Esokkan harinya.
Saat lagi belajar matematika. “Lis ajarin sih” Tanya Sahabatku, “Iya
yang mana?” jawab saya, “Nomor 3″ jawab Daffa. “Gini loh kamu kuadratin
angka ini berapa, lalu kamu jumlahkan angka kuadratan ini…” dan bla bla
jawabku “Oh ya ya” jawab sahabatku, “Mudeng gak nih coba lagi soal ini
pasti gak bisa” tanyaku. “Issh males lah saya kalau gini” jawab
sahabatku sambil menggedor meja, “Eh kamu kanapa sih aneh? ya udah kalau
gak mau, oke fine gini cara kamu bales ke saya. Diajarin biar pinter
malah marah marah gak jelas” jawabku sambil marah. “Sorry ya Lis, Sorry
banget, rasanya aku hari ini ada yang aneh” Jawab Sahabatku sambil
memohon. Ya tentu saja sebagai sahabat aku pasti memaafkannya.
Di Rumah Aku berfikir sambil tidur tiduran “Hmm kenapa dia bertingkah
seperti itu tadi? Hmm apakah dia bukan yang terbaik buatku? Oh Tuhan
aku mohon lupakanlah semua perasaan sukaku kepada sahabatku sendiri.
Sambil mendengarkan lagu Geisha – Lumpuhkan Ingatanku
Lama kelamaan aku bisa juga melupakannya dengan cara aku melirik
orang lain ya tetap teman sekelasku tapi “Dia” beda dengan yang lain.
Dia murah senyum, Manis, Tampan, Alim, Pendiam dan pintar pula. Dia
bagaikan malaikat. “Oh Tuhan kenapa aku baru sadar? Kenapa aku dari dulu
mengejar “Dia” Batinku
Wajahnya yang manis kalau saja dia tersenyum.
Bel Pulang. AKu langsung mengambil HandPhonr yang ada di Tasku
Aku langsung sms sahabatku Daffa. Aku tanya tentang dia.
To: Daffa
Fa TTL “Dia” kapan sih?
From: Saya
Jojog 20 maret 2000
Kenapa suka ya sama “Dia” ya?
To: Daffa
Ha? hem dah hust diem jangan bilang siapa siapa loh.
From: Saya
Ya ya.
Keesokan hari nya. In School
Aku datang dengan wajah polosku dengan menundukkan kepala. Ya sahabatku
Daffa selalu meledekku walaupun si “Dia” tidak tau kalau aku suka
dengannya tetap saja aku sangat malu. Sahabatku selalu saja mengancamku
jika aku meledek daffa pasti sahabatku ini langsung ngomong “Rahasaimu
pasti aku bongkar” Kata sahabatku, “Ihh jangan dong padahal kan kamu
sudah janji tidak akan kasih tau siapa siapa” Jawabku “Ya” Jawab
sahabatku. Ya walaupun dia selalu menjawab iya tetap saja dia
mengancamku. Ya tentu saja aku sangat marah besar, kadang kali aku
memukuli sahabatku itu, sanyang dia tidak jera jera tetap saja dia
mengulangi sikapnya itu.
“Daffa jangan gitu dong plis, aku malu loh” Tanyaku dengan nada sebal,
“Gak dia gak akan tau” jawab dia dengan nada santai, “Iya iya tetap saja
kau mengulangi tingkah anehmu itu” jawabku, Sahabatku hanya tertawa
saja
“Lis, Aku jaluk seribu sih Lis?” Tanya Daffa, “Orak eneng” Jawabku,
“cethil kamu Lis,” Tegas sahabatku, “Opo toh cethil, ngomong pakai
bahasa Indonesia aja napa” Bingung hanya sedikit menguasai bahasa jawa,
“Mokene Ajar Bahasa Jowo, koyok ngono ojo orak ngerti” Jawab sahabatku
sambil mentertawaiku, “Wes lah sak karepmu dewe” Jawabku kesel.
Sahabatku Daffa hanya mentertawaiku, di sisi lain aku melihat si “Dia”
tertawa melihat aku dan sahabatku ngobrol. Batinku “Aku berhasil
membuatnya tersenyum” itu sangat membuatku bahagia.
Aku selalu mendangi dia saat dia tersenyum, dia manis banget kalau
tersenyum. Jika berbicara dengannya rasanya Oh Tuhan kau seperti
menurunkan malaikat ke dunia ini wajah alimnya, tampannya, manisnya
tidak tertahan, aku hanya bisa menahan dalam hatiku.
“Lis, ini apa sih jawabannya heheheeh” Tanya si “Dia” dengan senyum
manisnya, “Ah Cueelll, ini B” Jawabku dengan tertawa. “Sini mana lagi?”
Tanyaku, “Udahlah maksaih ya Lis?” Jawab si “Dia”, “Oke ya wes,”
Saat itu istirahat. Aku mau ke Mushola dengan teman temanku untuk
menunaikan ibadah sholat dhuha. Ya si “Dia” juga pasti ke mushola aku
melihatnya berdoa hingga menangis, aku hanya melihatnya rasanya aku pun
juga ikut sedih. Batinku “Ya Allah kau menurunkan malaikat yang nyata ke
dunia”
Dia selalu membuatku salah tingkah di depannya, aku hanya bisa
tersenyum malu jika menatap wajahnya. Kadang aku selalu keGE’ERan jika
dia senyum kepadaku, batinku “Apakah dia menyuakaiku?”. Aku tetap selalu
tersenyum di hadapannya.
Aku selalu mencoba mendekat, tapi cara ini rasanya aneh. Hehehe
Hmm aku harap dia tak pernah tau bahwa aku menyukainya. Amin
Biarkan waktu yang menjawabnya.
Kebahagiaanku di sekolah hanya dengan melihat wajahnya tersenyum
memandangku itu sudah cukup, sudah cukup membuatku sangat bahagia
Aku akan selalu menyayanginya, Aku akan selalu ada jika dia meminta bantuanku.
Aku akan selalu memendam rasa ini dalam hatiku.
Aku akan selalu berusaha membuatnya tersenyum.
Aku akan selalu berudaha membuatnya melihat aku.
Aku hanya meminta kepada Tuhan jagalah “Dia”, Sayangi “Dia”
Maybe aku akan selalu menunggunya sampai dia membukakan pintu hatinya buatku.
The End
Cerpen Karangan: Mawar Indah Pertiwi


0 komentar:
Posting Komentar