Selasa, 01 April 2014

Hurt

Awalnya kita teman sepermainan. Selalu merangkai impian masa depan. Matanya sipit senyumnya manis dia jago inggris! Sementara aku… jago matematika! itu pun kata nya. Sepuluh tahun lengkap rasanya sekian lama aku bersama dia. Aku tahu kesehariaannya. Dia suka futsal. Dia suka menggombal. Dia suka menghayal. Bahkan aku tau cerita cinta nya. Namanya mikha.
Hobi kami melihat bintang setiap malam sambil merangkul banyak impian. Rangkulan itu sudah terbiasa sejak kita bersama dan sekarang kita sudah SMA. Sial! aku semakin nyaman dengan rangkulannya sangat nyaman walaupun kita hanya sebatas teman. Sampai saat ini aku tak pernah mengerti penyebab kenyamanan ini? Mustahil ini cinta.
Jadi… selama ini aku salah menafsirkan cinta. Yang ku tau cinta berawal dari suka tapi di sisi lain dia juga membuat ku terlena. Dia selalu hadir di fikiranku. Dia selalu penyebab senyumku. Apa aku boleh cinta mikha? Pertanyaan klasik yang membuatku ter-usik. Aku mencoba memendam pertanyaan-pertanyaan itu entahlah… mengapa cerita cintaku begitu liku. Ternyata cinta lebih gila daripada matematika!
Aku heran ternyata Tuhan menciptakan wanita penuh kekuatan. Kuat! se-kuat batu karang yang terhempas terjangan ombak, tetap kuat walau terhempas. Tetap tegar walau dia tak mau mendengar. Tetap cinta walau menimbulkan luka. Tetap bertahan walau menyakitkan. Karena dia aku sudah terbiasa dengan air mata. Terserah apa kata mikha, aku rasa ini perjuangan cinta untuknya.
Apakah sahabat selalu berakhir dengan cinta? Masih tanda tanya untuk mikha. Sudahlah aku terlalu memendam terlalu lama. Kenyataan pahit! tetap saja mikha menganggapku sahabat. Aku berusaha tertawa bahagia saat mikha menceritakan tentang wanita pilihannya. Andai hati bisa bicara mungkin dia tak akan sanggup untuk berkata-kata terlalu banyak mencurahkan air mata.
Aku kesal ketampanannya meningkat saat dia bermain futsal. Diam-diam aku selalu memotretnya. Memasangnya di dinding-dinding kamar. Melihat fotonya saja aku bahagia apalagi memiliki nya?
Setiap sore jika aku merindukannya aku membuka album ini, terpampang banyak foto mikha. Foto saat dia bermain futsal dan foto saat kita bersama. Album ini membuat aku tertawa sendiri. Cinta memang membuatku gila!
Akhirnya tanggal dua datang juga. Tak sabar aku mengenakan gaun ini di hadapannya. Sambil membawa mawar putih lambang persahabatan cinta. Dan album ini yang telah lama aku kumpulkan berisi semua tentangnya. Tanggal dua aku memang fix untuk menyatakan cinta untuknya. Biarkanlah akan ku jadikannya indah untuk tanggal dua.
Sialnya hujan tiba saat aku ingin menyatakan cinta. Aku berteduh di bawah pohon depan rumahnya. Tangan kanan ku mengepal mawar putih. Tangan kiri ku memeluk album ini. Lagi-lagi hujan tak mau berhenti hingga mataku tertuju oleh pintu mikha yang terbuka dan ternyata di dalam ada wanita selain aku. Begitu mesra mikha merangkul wanita itu dan sepengetahuanku dia tak akan merangkul wanita selain aku. Wanita itu clara sahabat terbaikku di kelas.
Badanku lemas aku mengharap-harap cemas. Aku berbalik badan dan membuang semua yang ada di tanganku. Aku berlari tak henti. Aku tak mau melihat mikha lagi. Jika aku tau dari awal cintaku bertepuk sebelah tangan. Kenapa masih berharap berlebihan? Seharusnya aku harus pintar untuk melupakan!



Cerpen Karangan: Risma Dwi Meidita

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates