Selasa, 01 April 2014
Hari ini, takdir Tuhan benar-benar membuatku takjub. Sudah 2 tahun
aku tidak bertemu dengan seorang laki-laki yang berhasil mencuri cinta
dariku untuk yang pertama kalinya, dan sekarang tanpa aku duga dia
pindah satu sekolah bareng aku. Dan ketika kenaikan kelas sebelas. Aku
ditakdirkan satu kelas dengannya.
Tuhan, Dia satu sekolah denganku saja aku sudah kehabisan kata-kata. Dan sekarang Engkau menakdirkan aku satu kelas?
Saat pertama kali masuk ke kelas XI-IPA 2 aku benar-benar tidak tahu
apa yang harus aku perbuat. Jantungku benar-benar ingin meledak. Sosok
yang pertama kali aku cari adalah “Dia” cinta sekaligus pacar pertamaku.
Saat bel masuk sudah berbunyi, masih tidak ku temukan sosoknya.
“Mungkin dia tidak sudi satu kelas denganku…” batinku. Namun dugaanku salah. Setengah jam kemudian dia datang.
Senyum bahagia merekah di sela-sela bibirku.
“Eh ngapain senyum-senyum sendiri? Kesurupan ya? Hahaha..” Tanya Fifid teman sebangku ku
“enak aja! Rese’ ah kamu..” Jawabku cemberut.
“Yeee.. Biasa aja kali bibirnya gak usah manyun 10 senti gitu..”
Aku tidak memperdulikan Fifid lagi. Terserah dia mau ngedumel apa. Ada
hal yang lebih penting ketimbang meladeni fifid. Yaitu memperhatikan
seorang yang sangat aku cintai sedang dihukum di depan kelas.
Sudah 2 bulan aku satu kelas dengannya, tapi sebatas ngobrol atau
saling melempar senyum saja gak pernah. Ya Tuhan.. Dia benar-benar gak
peka sama perasaanku. Ya.. Memang seharusnya begitu. Karena dia sudah
mempunyai seorang pacar. Setiap hari pacarnya datang ke kelasku.
Rasanya muak dengan semuanya. Bagaimana tidak? Mereka berdua
beradegan romantis di depan mataku. Tapi, ternyata waktu membuatku
terbiasa dengan semua itu. Aku tabah. Cuma buat dia. Ya.. Cuma buat dia.
Semakin hari aku semakin tidak kuat menyembunyikan perasaanku. Aku
masih mencintainya. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membisu.
Ternyata Tuhan benar-benar mendengar doaku. Setelah berbulan-bulan
aku hanya terlihat seperti orang asing baginya. Sekarang tidak lagi. Dia
pindah tempat duduk di sampingku. Ya meskipun berjarak satu bangku.
Tapi itu masih bisa dikategorikan di sampingku.
“Eh Stef.. Minjem headsetmu” kataku pada sahabatku Stefi saat jam pelajaran agama kosong
“Aku juga pinjem step..”
“Enak aja, aku duluan yang pinjem..”
“gak bisa, aku duluan stef..”
“Aku duluan!”
“Lagian Handphonemu kan lagi dicharger..”
“iya.. Iya.. Nih!” aku menyerahkan headset kepadanya.
Dia hanya menatapku, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Itu untuk pertama kalinya aku bertengkar dengannya sejak satu kelas.
Saat jam terakhir, dia pindah duduk di belakangku. Aku benar-benar
tidak berani menolehkan kepalaku. Tiba-tiba fifid tertawa sendiri
“Kenapa kamu haaa?” tanyaku.
“Lihat aja. Di jilbabmu ada tulisan apa? Hahaha..”
Aku menoleh dan ternyata ada kertas yang menempel dengan tulisan yang
benar-benar tidak sopan. “Siapa yang nempelin ini? Kamu far?” tanyaku
sambil mendelik ke arah ghofar.
“Enak aja! Tuu pelakunya si vicky..” Aku tidak berani berbuat apa-apa
kalau dia yang melakukan. Ku lihat dia pura-pura tidur. Ingin rasanya
menjitak kepalanya itu. Tapi aku tidak berani.
Semakin hari aku sering bercandaan dengannya , meskipun bareng
teman-teman yang lain. Tapi itu cukup membuatku merasa bahagia. Saat jam
istirahat, dia disamperin pacarnya. Ya itu memang sudah menjadi
rutinitas mereka. Cemburu kerap kali menghampiri. Tapi aku mencoba tetap
tabah.
Banyak hal yang membuatku merasa heran, ketika kaos olahragaku
hilang. Beberapa hari kemudian. Kaos olahraganya juga hilang. Aku heran
sekali sungguh. Apa ini yang dinamakan jodoh? Tanpa diduga banyak
peristiwa yang tanpa sengaja bisa sama. Aku harap begitu. Hingga detik
ini aku masih setia menunggumu, dan mencoba tetap tabah meski aku sering
melihatmu bersama pacarmu.
Cerpen Karangan: Ana Suciati


0 komentar:
Posting Komentar