Selasa, 01 April 2014
Aku memulai saat semuanya terasa beku. Entah karena aku terlalu
berlebihan ataukah semuanya memang serba menuntutku. Aku melihat saat
hiruk pikuk tak peduli, Aku memulainya. Semua berawal tanpa sekedar
pagi. terlihat berbeda memang ketika formulasi keadaan dan kebiasaan ini
berbanding terbalik. Menerjang egois dan seperti menginstall ulang
semua program di fikiranku. Segalanya akan ku tulis mulai hari ini.
Skenario kehidupan yang tak akan pernah kita mengerti. Mengapa
persegi tidak bulat? mengapa siang malam tidak bersamaan? bagaimana
mungkin seekor anak ayam menetas dari telur yang keluar dari dirinya
sendiri? jawaban dari pertanyaan yang sama sekali tidak masuk akal.
Pertanyaan yang sama halnya dengan Mengapa aku bertemu kau?
Saat satu per satu elang mulai terbang beriringan… saat proses
pengembunan selesai. Saat itu pula semu bayangan terlihat jelas, terik
dan gerahnya segala suasana.
OSPEK
Momok abadi yang setiap mahasiswa hadapi. Rasa malas acap kali
menginjak kampus, kampus baru ku. Metamorfosis yang seperti datang tiba
tiba. Seuntai cerita yang berbatu di tempat ini, tak pernah ku gambar
sketsa semua ini yang berjalan bak halilintar saat siang. Aku melihat
jauh.. teropong yang tak pernah bohong membumbung arah sekian kali.
Masih asing memang, namun jiwa mu seperti telah hadir lama. Entah itu di
mimpiku ataukah khayalan samar samar ku yang terlalu kupaksa jelas.
Sosok yang teramat arif, senyum yang meneduhkan. Hanya sesederhana itu,
Kau.
Hari pertama ospek
Bangun tidur lebih awal dari biasanya dan harus kusiapkan segala macam
atribut aneh yang akan ku pakai nanti. Tanpa berfikir lama untuk sarapan
aku langsung berangkat menuju kampus. Dengan hati yang tidak tenang dan
tergesa gesa.
Greeekkk… Gerbang kampus sudah ditutup. Salah satu senior yang
menunggu di depan gerbang berdiri tegak dan siap menghukum siapapun yang
terlambat. Dan aku salah satu di antara yang terkena hukuman hari ini.
“Kenapa kalian terlambat? Ini baru hari pertama masuk”
“Rumah saya jauh kak” jawab seseorang yang ada di barisan paling depan
“Mentang mentang rumah jauh terus terlambat? Alasan!” Gertak salah senior yang lain
Akhirnya kami pun dihukum di depan mahasiswa baru yang lain.
“Zahra, mana Topi mu?” Tanya seorang kakak tingkat yang berbadan gemuk agak tinggi itu
Astaga, Topi yang ku buat sampai larut malam lupa ku bawa
Apakah ini hanya kebetulan atau sebuah garis takdir yang datang tiba tiba?
Peristiwa kecil ini mengantarkan aku untuk sedikit saja mulai mengenalmu.
Aku dihukum dan ditugaskan mencari salah satu senior kampus ini. Ya,
aku mencari nama yang baru pertama ku dengar, Lalu lalang mahasiswa baru
dan senior membuatku kikuk mencari. Suara teriakan maba yang sedang
dihukum makin membuat aku harus berulang kali menghela nafas. Dan
akhirnya saat sosok yang tak kuduga muncul, gerakan kaki dengan langkah
pasti berjalan di depan dengan Co Card Senior yang sama persis dengan
nama yang ku cari. Kau…
Iqbal Aldian Ghifary. Nama yang untuk pertama kali ku ucap setelah
berulang kali lubuk ini menerjemahkan mu. Nama yang tak pernah ku fikir
akan menjadi berjuta kali lipat ku sebut dalam perjalanan ku. Nama yang
mengukir semu bayang menjadi kenyataan nan indah.
Saat satu demi satu senior berlagak memukau di depan mahasiswa baru,
bertingkah sesuka dirinya. Berbicara tanpa memahami betapa repotnya
junior yang menghadapi. Tampak sosok yang tenang. Kesederhanaan yang
membuatnya bagaikan putih di antara laut hitam. Kearifan yang menghiasi
jiwa nya, dan ketulusan yang melengkapi nya.
Hari Kedua Ospek
“Setiap kelompok ospek wajib menampilkan inagurasi di acara puncak
besok, Hari terakhir. Dan setiap kelompok akan di dampingi oleh satu
panitia. Berikut saya bacakan nama nama yang menjadi pendamping” Jelas
panitia ospek.
Dan tiba saat kelompokku disebutkan
“Kelompok edelweis akan di dampingi kak Iqbal Aldian Ghifary, Silahkan menuju tempat yang telah disediakan”
Deg, detak jantung ini seperti berhenti tiba tiba mendengar nama itu,
Kau. Satu lagi Kebetulan datang yang semakin membuatku mengenalmu. Tak
seperti merpati, semakin lama eloknya sepudar warna beribu cahaya yang
membuatnya luntur. Setiap momen kecil yang tak ingin ku abaikan. Setiap
berjalannya seperempat detik yang tak ingin ku lewatkan sia sia. Detak
jantung yang terhitung cepat saat melihat mu. Aku sudah cukup dewasa,
Ayah. Ijinkan rasa ini bergulir meski tak tau dimana akan bermuara.
Tiba saat Hari Terakhir ospek. Acara yang melelahkan, Wide Game. Aku
harus berjalan berkilo kilo meter bersama maba yang lain. Di suguhi
permainan yang tak sedikitpun mengasyikkan. Setiap permainan yang
membuat muka dan badan kotor. Dan saat pos terakhir akan dilewati. Saat
itu pula untuk ketiga kalinya aku melihatmu jelas. Nama yang lagi lagi
kusebut dalam hati. Hanya akan mengagumi saat ikan koi lincah menyobek
air. Saat sayap sayap langit tampak berterus terang tentang cerahnya
hari ini. Semakin hilangnya gumpalan awan yang melukis seluruh biru.
Dihiasi selarik warna putih yang kuharap adalah kau. Laksana muatan
negatif yang membungkus inti atom semakin pekat semakin padat dan
semakin pejal, seperti itulah layaknya nurani ini mengenalmu. Aku
mengingat mu, apa kau mengingatku?
Hola Hoop
Permainan terakhir yang membuat tertawa, Untuk pertama kali nya
permainan yang menyenangkan setelah 9 permainan terlewati. Padahal ini
pos terakhir, Berarti di antara sekian pemainan hanya satu yang menarik
bagi ku. Terlebih lagi saat sudah kembali ke area ospek. Panggung
inagurasi yang telah berdiri di depan hall kampus membuat maba lega dan
siap menampilkan inagurasi masing masing. Acara yang berlangsung
menyenangkan, membuat hari terakhir ospek mengesankan. Namun tak sekejap
pun aku melihat Kau…
25 September
Seminar nasional. Pukul 8 kurang 15 menit, aku tergesa gesa menyiapkan
segala keperluanku sambil bergerak secepat mungkin dan melaju kendaraan
dengan kecepatan kencang.
Aku berhenti di depan mall kota lalu melihat kanan kiri. Astaga aku
tidak tau dimana seminar diadakan. Nama gedung yang masih asing di
telingaku. Ponsel, Ya ponsel yang ku harap memberi info dan menolongku
saat saat kritis ini. Moza teman yang pertama ku kenal saat di kampus,
Dia membalas pesan singkat ku dan menunjukkan arah jalan menuju gedung.
Beberapa saat kemudian aku tiba di gedung. Moza masih setia menungguku di pintu masuk
“Cepat Ra, Seluruh dosen udah masuk”
Teriakan Moza yang membuat kaki ku gontai melangkah.
Lift menuju lantai 2
Aku dan Moza masuk dan ya Allah… Ia di depanku. Ia menatapku lalu
tersenyum, Begitu sederhananya. Oksigen di dalam lift yang tiba tiba
sejuk. Degup jantung yang mendadak lebih cepat. Segalanya terasa diputar
dalam sebuah orkestra berisi nada dan iringan musik yang mendamaikan.
Alunan di dalam lubuk ini yang bertuliskan puisi puisi indah.
Lift menuju lantai 2 sampai
Moza menyeretku agar berjalan lebih cepat. Kami jalan beriringan, Tanpa
memedulikan samping kanan dan kiriku aku tak usai menatap nya dari
belakang. Mengisi Absensi mahasiswa dan ia di sampingku ia menatapku
kembali. Aku mencoba biasa dan hanya melihat dari bola mata yang tetap
memandang buku absensi.
Ini kah sekelumit prolog dari cerita panjang? Yang menandai segala
peristiwa sekilas saja? Namun makin ku tukas makin menjadi. Makin ku
lupa makin teringat jelas.
Sebuah arloji yang tak bisa ku protes untuk berhenti. Rasa ini tak
lagi benih, ia mulai tumbuh akar. Akar yang mulai menjalar ke permukaan
tanah tempat ia berkembang. Yang mulai mencari unsur unsur hara untuk
tumbuh. Meski ia tak pernah kusiram, Akar itu makin panjang dan makin
kuat. aku bahkan ingin memangangnya di tengah mentari agar tak lagi
hidup. Kau tau kenapa? Agar jiwa ini tak beradu di tengah pengharapan
selain harapan harapan kepada-Nya. Agar rasa ini tak memberi kesempatan
sedikitpun untuk dilukai. Namun rasa kagum pada mu yang mulai menjumput
sendi sendi hati ku. Menorehkan sedikit sela di antara rimbun nya
seluruh prasangka. Menopang seluruh rongga yang lama mencerca.
Angin malam lirih menyapa. Suara hati dingin mendera. Lupakan. Kata
yang ku tulis besar besar di separuh otakku. Cukup seperti ini saja,
cukup melihat air di tempatku berdiri tanpa harus mencari teratai untuk
menutupi permukaan yang hampir menguap. Mengapa pula memilih lari saat
ombak di dasar laut menyapu segala yang ingin dienyahkan. Tanpa
mengambil secuil pun dari sebait kisah ini, Saat yang tepat memaknai
perjalanan hidup ku yang teramat panjang.
3 tahun berisi kesibukan dan tak ada sedikit pun ruang untuk mencari
mu. Bahkan untuk mengingat mu pun kadang aku tak ingin. Aku baru
bergelar Ahli Madya, dan harus ku teruskan pendidikan ku. Akhirnya mulai
saat itu juga ku tinggalkan kota dengan banyak kenangan manis dan
pelajaran hidup itu. Mulai perlahan menutup kampus dengan banyak
pengharapan dan merangkak menuju hari ku yang baru. Selamat tinggal
kenangan indah, Semoga suatu saat aku kan mnemukan mu kembali…
2 tahun ku cicipi hawa perjalanan menuju Magister.
Saat banyak kebisingan yang menghalangi tiap ruas ruas jalan, Tiba saat
nya Hari membahagiakan itu. Aku bergelar Magister dan dinobatkan sebagai
mahasiswi coumlaude. Beberapa minggu kemudian aku bekerja di salah satu
perusahaan obat di Kota ini.
—
“makan siang yuk Ra” Ajak Kenny kerabat kerja di tempat ku bekerja.
Terik mentari yang membakar titik titik kecil pada tiap orang yang
berjalan. Mengepulnya asap asap kota yang membumbung dan berisiknya deru
kendaraan yang lewat menemani makan siang kali ini. Meski aku berada di
dalam ruangan, tetapi aktivitas kota terlihat jelas melalui kaca
pembatas di lantai 2 ini. Apalagi posisi tempat makan ku dan kenny yang
tepat di pojok dan bebas melihat segala pemandangan di bawah.
“Bentar Ra, biar aku pesen makanan dulu kamu tunggu disini ya”
Kata kenny dan hanya aku jawab dengan anggukan dan senyuman tipis.
Detik detik menunggu yang terasa berkali lipat lama dari waktu
biasanya. Dengan memandang ke jendela dan menyaksikan seluruh hiruk
pikuk yang seakan mencuat terus menerus. Tiba tiba terdengar suara yang
asing
“Apa kabar Zahra?” Sebuah suara yang pernah ku ingat. Yang seperti telah
ku putar selama bertahun tahun. Suara yang merdu ku dengar, Yang
mengingatkan ku pada seseorang. Kau…
Perlahan ku putar badan ku yang sedari tadi membelakangi kantin
kantorku, Mulai kulihat separuh badanya yang berpostur tinggi dan
perlahan ku dongakkan kepala ku untuk melihat Kau…
Ya Allah benarkah ini dia? yang namanya telah berjuta kali ku sebut
dalam sejarah panjangku. Yang kearifanya selalu tergaris indah di tiap
mimpiku? Yang segalanya membuatku tercengang di tiap momen momen kecil
dulu?
“Ba.. Baik. Iqbal?” terbata bata ku menjawab dan tanpa sengaja menyebut nama itu..
“hmm iya aku Iqbal kakak tingkatmu saat kuliah di kota mu dulu” jawabnya dengan sedikit nada tertawa
Perkenalan dan nostalgia yang menyenangkan. Komunikasi yang terjalin antara aku dan Kau yang berlangsung sampai berbulan bulan.
Dan suatu saat di sebuah tempat makan yang biasa kami kunjungi saat
lembur kerja. Saat malam yang berbintang indah dengan rembulan anggun
dan semilir angin yang membuat sejuk atmosfer malam ini. Saat lampion
lampion kota terbias cantik melengkapi pusat pusat perbelanjaan itu.
Saat kedua telingaku tak pernah menyangka mendengar kata kata mu. Meski
kau tau mata yang tak pernah berdusta bahwa aku merindukanmu. Pengakuan
yang membuatku terhenyak.
“Ra, Kau tau? Saat masa masa ospek dulu Kenapa kau dihukum mencari
nama ku? Karena aku lah orang yang pertama kali mengagumi mu. Aku
meminta agar kau mencariku lewat orang lain. Taukah kau? Saat senior
pendampingmu adalah aku? Akulah yang meminta menjadi pendampingmu lewat
orang lain. Dan taukah kau? Saat malam inagurasi yang menyenangkan
justru aku tidak ada di kumpulan senior yang lain? Karena aku berada di
salah satu sudut panggung dan memotret setiap gelak tawa dan senyum
manis mu di malam itu, Karena aku tak ingin kehilangan peristiwa
terakhir kita bertemu saat itu. Dan kau perlu tau bahwa lukisan lukisan
mu selalu ku lihat saat malam dan aku mengingatmu hingga kini. Aku lah
yang berperan di balik layar yang membuat sketsa semuanya”
Jantungku serasa di balut keras yang menghentikan tiap denyut nadi
ku. Ini mengejutkan ku. Aliran darah yang sedari tadi normal justru
terhenti saat mendengar kata kata yang tak pernah ku duga. Sendi dan
seluruh otot yang bagaikan berhenti beraktivitas. Mulut yang seperti di
lem lekat lekat hingga tak dapat mengeluarkan suara satu huruf pun. Saat
desah nafas yang tersendat sendat. Pengakuan itu, Pengakuan Kau…
Saat akan kuberanikan diri untuk berbicara. Kau mengatakannya… “Ra,
Maukah kau jadi pendamping ku sepanjang hidup? Maukah kau menemani
hingga hari tua ku nanti?”
Lidah yang hendak berbicara itu kini serasa kelu. Mata yang
tercengang kini makin menyempit dan bersiap mengeluarkan sedikit tetes
air yang tak bisa lagi ku tahan. Hati yang baru saja bahagia mendengar
pengakuan mu kini serasa mengeluarkan beribu ribu wangi yang
mengindahkan setiap insan. Berjuta bintang malam ini seperti berbicara,
Bulan itu kini jadi saksi. Angin sejuk malam ini membuatku tak bisa lagi
membendung air mata haru ku ini. Dan lampion lampion kecil itu menjadi
penghias awal mula perjalanan sampai hari tua Kita.
Masih asing memang, namun jiwa mu seperti telah hadir lama. Entah itu
di mimpiku ataukah khayalan samar samar ku yang terlalu kupaksa jelas.
Sosok yang teramat arif, senyum yang meneduhkan. Hanya sesederhana itu,
Kau.
Kau seperti telah hadir lama dalam hidupku, Kau pendampingku
Cerpen Karangan: Novi Tri Utami


0 komentar:
Posting Komentar