Selasa, 01 April 2014
Cinta bertepuk sebelah tangan? Huft, menyebalkan!!
“Ren, Rena!” Dengan gerakan refleks gadis bernama Rena itu menoleh ke
arah datangnya suara yang memanggil namanya, dan lagi-lagi pria itu,
pria yang sudah 1 bulan ini mengisi pikiran dan hatinya, pria yang ia
sukai namun tak mampu untuk diungkapkan, Rizky.
“Rizky? Ada apa?” Pria itu terlihat sibuk mengatur nafasnya yang
terengah-engah, karena pria itu baru saja berlari mencari Rena di
seluruh penjuru sekolah.
“Kau akan pulang?” Rena hanya mengangguk mengiyakan, terlihat sekali
ekspresi kebingungan dari air mukanya. Rizky mulai bisa mengatur
nafasnya lalu menarik senyum tipis “apa kau terburu-buru untuk pulang?
Rencananya anak-anak akan berkumpul di rumah Beby, apakah kau bisa
ikut?” Kini raut wajahnya mengekspresikan bahwa ia benar-benar ingin
Rena untuk ikut bersamanya.
“Baiklah aku akan ikut” terpancar jelas bahwa pria itu senang jika Rena ikut bersamanya.
Rena’s view
Oh god kenapa harus begini? Kenapa hatiku selalu menjadi tak karuan saat
harus berhadapan dengan pria ini? Aku mencoba mengatur intonasi suaraku
agar tidak terdengar bahwa aku merasakan sesuatu yang berbeda
dengannya, seperti sebuah tarikan yang memaksaku untuk merasa suatu hal
yang ada di dalam hatiku.
Kini aku berada di belakangnya, menaiki sepedah motor kesayangannya
menuju rumah sahabat kami Beby, ya kami. Aku, Rizky, Beby, Rania,
Alisia, Aldrian, Reza, Raisa, Kevin dan Yoga.
Kami hanya membisu di atas motor, tak ada sepatah kata pun yang kami
keluarkan. Dari tadi aku hanya memperhatikan Rizky dari belakang,
menyimpan rasa kagum padanya, tidak berani mengeluarkan kata-kata
apapun. God, aku menyayanginya, aku menginkan pria itu sangat. Terlintas
di pikiranku tanpa sadar, teringat senyumannya yang sangat mempesona,
keramahannya, ketampanannya, ketawanya yang khas dan tak akan terlupakan
oleh siapapun, dan perhatiannya padaku yang membuat aku semakin jatuh
hati padanya.
“Rena, kita sudah sampai” suaranya membuyarkan lamunanku tentang dia,
mambuatku terlonjak kaget dan sedikit salah tingkah, lalu dengan cepat
aku turun dari motor membuatku hampir saja terjatuh dan kakiku terkilir.
“Rena kau tidak apa-apa?” Aku menggeleng sambil terus memegangi kakiku
yang terkelir, meringis kesakitan, lalu dengan cepat ia berjongkok
melihat keadaan kakiku “kau bilang tidak apa-apa? Kakimu terkilir Rena”
“Sudahlah aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit”
“Kau pasti berbohong kan?” Aku hanya menggeleng, menutupi rasa sakitku
agar pria itu tidak khawatir padaku. “Aku tau kau berbohong, kau pasti
tidak ingin aku khawatir, Sudahlah jangan sungkan padaku, aku ini
sahabatmu kan?”
“Tapi kan” dengan cepat Rizky menarikku dalam pelukannya memopohku untuk
masuk ke dalam rumah. Sial! Makiku dalam hati mengutuk diriku yang
begitu ceroboh hingga melukai kakiku sendiri, dan mengutuk diriku karena
tidak bisa mengatur deru jantungku.
“Rena, kau tidak apa-apa?” Suara Raisa menyambutku dan Rizky ketika
kami baru membuka pinti, aku hanya menggeleng, dan duduk di kursi
sebelah Yoga dengan masih di bantu oleh Rizky.
“Kakinya terkilir. by, apa ada orang yang bisa menyembuhkan kaki Rena?” Ucap Rizky pada Beby.
“Hmmm, pembantu ku bisa” aku langsung menoleh ke arah Beby, tidak! aku tidak mau di pijat itu pasti sangat sakit, tidak! Tidak!.
“Tidak! Aku tidak mau di pijat itu pasti sakit, tidak mau!” Seperti anak
keci aku merengek tak karuan, lalu aku melihat dengan jelas Rizky
mendekatiku berjongkok dan membisikkan sesuatu yang membuatku sedikit
tenang.
“Hey! Aku ada di sini, aku akan menjagamu, jangan khawatir” bisiknya padaku.
“Kau bisa memastikan bahwa aku akan baik-baik saja?”
“Tenang, aku akan di sampingmu, aku akan menggenggam tanganmu agar semua tidak akan terasa sakit”
“Sungguh? Terimakasih” dia hanya mengangguk dan menarik senyum kecil, membuatku sedikit tenang.
Author’s view
“Aaaarrrgh” jeritan seorang gadis terdengar sangat keras sekali, begitu memekikan telinga.
“Sudah tahan sedikit, lama-lama juga tak akan terasa sakit” Yoga ikut berteriak mencoba mengalahkan suara jeritan Rena.
“Iya, nanti juga akan terasa enak, jika sudah hilang rasa sakitnya” aldryan tak kalah teriak.
“Nah sudah selesai nona, bagaimana? Coba digerakkan” Rena mencoba
menggerakkan kakinya yang terkilir. Kakinya baru saja dipijat.
“Sudah tidak sakit, terimakasih”
“Baiklah kalau begitu saya mau pamit untuk kembali bekerja, permisi”
“Bagaimana? Sudah tidak sakit?” Tanya Rizky yang sedari tadi berada di samping Rena, memegang tangannya erat.
“Tidak sudah terasa enak” seketika Rena melihat bekas cakaran pada tangan Rizky. “Rizky, tanganmu! Aku benar-benar minta maaf”
“Aku tidak apa-apa, yang penting bagiku kau segera sembuh”
“Benarkah itu? Terimakasih” gadis itu menyunggingkan senyum kecil dan manis.
“Hey ada apa ini mengapa terdengar ribut sekali?” Kevin yang baru
saja datang membeli makanan bersama alisia langsung menghempaskan
tubuhnya di sebelah Raisa.
“Ada yang baru saja kakinya di pijat karena terkilir” sahut Reza, matanya melirik kecil pada Rena.
“Kau sih ceroboh” Alisia menoyor kepala Rena. Sedangkan Rena hanya memajukan bibirnya kesal.
Rena’s view
“Apakah cinta memang tidak harus memiliki? Apakah benar bahwa aku yang
bodoh? Bodoh karena hanya melihat pada satu arah, pada cinta yang tak
akan pernah bisa untuk ku gapai.
Ini sangat tidak adil! Mengapa hanya aku yang memperjuangkan cinta ini?
Mengapa hanya aku yang harus menanggung luka disaat aku harus melihatmu
bermesraan dengan wanita lain.
Dan mengapa kau selalu memberikan perhatian-perhatian lebih padaku
sementara itu yang selalu membuatku merasakan kembali sebuah rasa yang
tak akan pernah terbalas. ” Kini aku telah kembali menutup buku diaryku.
Menulis adalah salah satu cara agar aku bisa menumpahkan segala isi
hatiku, menulis sudah menjadi sebagian rutinitas harianku, dengan
menulis aku selalu merasa seluruh beban dalam hatiku telah pergi jauh
tenggelam dalam kata demi kata. ”
“Rena” aku melihat jelas bahwa Rizky berlari ke arahku penuh semangat, terlihat senyum lebar dari bibirnya.
“Rizky, ada apa?”
“Aku punya kabar gembira!”
“Oh ya apa?”
“Kemarin malam aku resmi berpacaran dengan Beby!” Cara bicaranya
terlihat penuh semangat dan memancarkan bahwa dia sangat bahagia.
Sedangkan kini hatiku hancur menjadi beberapa bagian, merasakan luka itu
semakin besar, semakin perih dan sakit.
“Oh ya? Selamat” god, bagaimana ini? Aku sudah tak tahan lagi hatiku
hancur, aku benci pada hidupku ini! “Mmm, Riz sorry gue harus pulang,
gue… gue buru-buru, bye” aku berlari sekencang mungkin menyetop taksi
lalu pergi meninggalkan Rizky sendiri, yang tampak bingung dengan
sikapku.
“Kriiiing”
“Rania? Ada apa?”
“Kau sudah tau bahwa Beby dan…”
“Aku sudah tau”
“Baguslah, kalau begitu nanti malam kau akan datang kan? Mereka akan mengadakan party di rumah Beby”
“Entahlah mungkin tidak” ya mungkin aku tidak usah datang jika aku tak ingin semakin terluka.
“Aku harus mengantar mom-ku ke acara pesta sahabatnya, sampaikan salamku pada mereka, maaf aku tak bisa datang”
“Sayang sekali, baiklah akan aku sampaikan, bye”
“Bye, have fun with you’r party”
“Okeey honey”
Baiklah ini keputusan yang bagus, aku akan terus berada di kamar ini!
Aku kembali mengambil diary, kembali menuliskan segala bentuk
perasaanku.
“Sekarang semuanya telah terjawab. Cinta memang tak harus memiliki,
cinta juga tak akan pernah bisa untuk dipaksakan semuanya harus mengalir
dengan apa adanya dari dalam hati. Sampai kapanpun aku tak akan pernah
bisa memiliki hatinya, dan sampai kapanpun aku akan selalu menjadi
sahabat terbaiknya, tak akan menjadi seseorang yang spesial dalam
hidupnya.
Ternyata memang hanya aku yang harus berjuang mempertahankan cinta
yang aku miliki, ternyata hanya aku yang harus merasakan luka ini.
Sekarang aku harus mulai terbiasa dengan melihat kamu bersamanya setiap
waktu.
Dan kini aku harus mulai merelakan kamu pergi bersamanya, karena aku tau
bahwa cinta ini hanya cinta semu yang bertepuk sebelah tangan”
End
Cerpen Karangan: Jihan Renata


0 komentar:
Posting Komentar