Selasa, 01 April 2014
Satu-satunya, tak akan ada yang lain. Hanya dia seorang. Cinta pertamaku. Kak R.
Setiap hari, aku hanya bisa memandang Kak R. Kenapa hanya dia? Karena
semua debaran ini, semua perasaan suka ini, hanya ada untuknya.
Kami mengikuti ekskul yang sama di sekolah, yaitu sepak bola.
Meskipun aku tidak suka bola, tapi deminya aku mau bersusah payah
belajar sepak bola. Semua untuknya, hanya untuknya.
Kami berbeda kelas. Aku berada di kelas 8.4, sedangkan dia berada di
kelas 9.1. Aku yang jauh ini, senang berkunjung ke kelasnya dengan
alasan bertemu dengan Kakakku yang kebetulan sekelas dengan Kak R. Dan
kegiatannya sehari-hari hanyalah berdiam di kelas, merenungkan sesuatu.
Meski aku takut berada di wilayah kelas 9, tapi aku berani hanya
untuknya. Hanya untuknya.
Setiap kami tidak sengaja bertemu, aku menunduk sambil menyapanya.
Dan ketika aku meliriknya, dia membalasnya dengan senyuman lebar.
Membuat aku menjadi berdebar. Meski pun aku menahan rasa malu dan salah
tingkah di depannya, tapi aku melakukannya hanya untuknya. Hanya
untuknya.
“Aaaah, Dini! Kamu itu kan cantik, baik, pintar, kenapa harus malu-malu sih!”
Seperti pisau, kata-kata Rara cukup menusuk. Meski pun aku cantik, tapi
yang namanya malu tetap saja malu. Rara memang tidak mengerti!
Rara duduk di bangkunya. Ia membolak-balik halaman bukunya. Lalu dia
menunjukkan sesuatu kepadaku. “Ini kisah cinta yang kubuat. Belajarlah
dari cerita ini!”
Rara menyerahkan bukunya. Aku menerima buku itu sambil menerka-nerka isinya.
Pulang sekolah tiba. Aku dan Rara berdampingan menuju gerbang
sekolah. Dan terpanalah aku. Kak R sedang bermain gitar sambil menyanyi
di depan kelas 9.1. Meski pun suaranya fals, tapi permainan gitarnya
memikat. Aku bersembunyi di belakang tangga bersama Rara untuk menikmati
permainan gitarnya.
“Kak R, kamu keren banget main gitar!” Seseorang memuji Kak R. Di
situlah aku mulai mengerti rasa sakit. Sakit yang tidak mengeluarkan
darah, tapi tidak bisa ditahan.
Ya, di sampingnya telah duduk seorang wanita yang disayangi Kak R. Anak kelas 7 yang bisa mempesona Kak R. Dista.
Rara menatapku khawatir. Aku mengepalkan tanganku sekuat-kuatnya,
menahan rasa kepedihan sekaligus kenyataan bahwa di sampingnya sudah ada
orang lain. Tidak ada tempat yang tersisa untukku.
Kak R hanya tertawa kecil. Ia membelai lembut rambut Dista yang lurus
dan harum. Jujur, aku tak tahan pemandangan ini. Pemandangan yang bisa
menusuk lebih dari perkataan Rara.
Aku langsung melarikan diri, disusul oleh Rara. Pedih rasanya. Bahwa
cinta ini bertepuk sebelah tangan. Harusnya aku bisa melupakan orang
yang memang sudah mempunyai belahan jiwa. Tapi perasaan ini hanya untuk
Kak R. Hanya untuknya.
Esoknya, aku menemui Rara di depan gerbang sekolah. Ketika kami akan
meninggalkan tempat, seseorang datang dengan sebuah surat. Surat yang
bisa membuat aku salah tingkah. Kenapa? Karena surat itu dari Kak R.
Dengan sedikit canggung, Kak R menyerahkan surat itu. Aku menatap
surat itu lekat-lekat, berharap ini adalah harapan untuk cintanya.
Tapi harapan itu langsung hancur. Aku bisa melihat nama yang terpampang
di amplop itu. “Riko”. Kak Riko adalah orang yang ternyata mengirimkan
surat itu. Untuk kedua kalinya hatiku remuk. Aku hanya bisa tersenyum
pahit ketika menatap surat itu. Aku mau tersenyum pahit untukmu. Hanya
untukmu.
Kami berdua meninggalkan Kak R. Aku memikirkan rasa sakit hati ini. Berapa kali lagi dia akan menyakiti hatiku? 100 kali?
Rara telah pulang karena ada urusan mendadak. Jadi hanya ada aku di kelas. Merasa bosan, aku meninggalkan kelas.
Hari ini aku belum melihat Kak R. Bahkan pulang sekolah. Terlintas di benakku untuk melihat ke kelas Kak R.
Aku mengintip diam-diam. Ternyata Kak R berada di dalam. Tapi kini Kak R
berhadapan dengan Dista. Aku menguping karena penasaran.
“Kak R, maafin Dista ya, Dista nggak bisa lagi sama Kak R. Dista capek dicaci maki orang-orang. Dista mau minta putus!”
Mataku membulat. Dista mengambil tas dan meninggalkan kelas tanpa
melihatku. Aku melihat Kak R. Kak R yang kini menunduk, merenungkan
hubungannya dengan Dista. AKu bisa melihat hati Kak R yang pedih, meski
pun tak ada air mata di pipinya.
Kakiku melangkah ke arahnya. Kaki ini sudah tidak bisa dikontrol
lagi. Hati ini sudah mantap. Aku tak kuat melihat orang yang aku suka
bersedih.
Kini aku berada di depan Kak R yang duduk di bangkunya. Aku tak tahu mengapa, air mataku berjatuhan.
“Kak R, jangan sedih Kak. Masih banyak yang sayang sama Kakak. Jodoh
Kakak itu bukan dia. Tuhan sudah menciptakan jodoh yang lebih baik untuk
Kakak. Jadi jangan sedih Kak.”
Aku berkata-kata sambil menangis. Kak R yang semula kaget, kini tersenyum. Tangannya menyentuh kepalaku. Aku terkejut.
“Terima kasih.”
Ia tersenyum lebar. Bagaikan sihir, senyuman Kak R membuat aku bahagia.
Kak R, masa SMP ini berharga karenamu. Andai Tuhan membuat dirimu
tidak menjadi jodohku, tapi kau bagian dari sejarahku. Cinta ini hanya
untukmu Kak R. Hanya untukmu.
TAMAT
Cerpen Karangan: Nadhira Rahma


0 komentar:
Posting Komentar