Selasa, 01 April 2014
Hanya ada satu alasan yang memungkinkan, penyebab aku kembali ke
tempat ini. Sesuatu yang terus bertalu-talu demikiannya mendorong
langkahku kembali. Yang tak bisa kudefinisikan apa. Yang tak pernah bisa
berhasil kuterjemahkan ke dalam bentuk frasa yang terangkai. Bahkan
hanya sebuah pengakuan kecil saja barangkali, terhadap hatiku yang
melulu sakit, juga terhadap diriku yang entah rasanya seperti
tulang-belulang yang ringkih berdiri.
Aku menyangkal. Dalam bentuk apapun jelmaan dirimu yang masih saja
tinggal di sudut otakku. Aku mengoreknya agar ia mau keluar dari
kediamannya, tetap aku sia-sia. Hal yang selalu sama yang kulakukan
sedari dulu, enam tahun yang lalu. Jika aku sempat menghitungnya berapa
kali aku menyangkal, berapa kali aku menghindar, berapa kali aku menipu
diriku sendiri, dan berapa kali aku mencoba menjauh. Tapi pada akhirnya
aku selalu kalah dalam perseteruan tak tertulis ini. Mengalah pada
perasaan yang bodoh ini. Mengaku malu pada langit sepi yang berkali-kali
menertawakan kegagalanku.
Selama tahun-tahun itu berlalu di depan mataku, hampir tak secuil pun
kenangan yang kulupakan atau terlupakan. Aku merasa, apakah perasaanku
ini pantas untuk disebut ‘memperjuangkan’ atau ‘diperjuangkan’? Atau,
aku kah saja yang terlalu tolol?
Tidak bisa kuhakimi siapa yang bersalah, aku, atau kamu? Jika aku,
tolong katakan bila aku terlalu jauh menterjemahkan bahasa hatimu yang
begitu absurd. Tolong katakan bila aku salah menilaimu selama ini.
Tolong katakan. Dan jika kamu, aku ingin menanyakan banyak hal yang
selalu saja membuatku penasaran. Aku ingin kali ini saja kamu
menjawabnya.
Aku mengenalmu, Hei. Meski aku hanya melihat keseharianmu saja dalam
lembar hariku. Tak lebih, namun tak juga kurang. Aku mengenalmu, sebagai
teman dekatku. Tunggu dulu, apa tadi? Teman dekat? Bahkan aku pun tak
tahu apakah kamu akan mengakuiku sebagai teman dekatmu? Aku dan kamu,
memang terlihat dekat. Tetapi hanya kalimat-kalimat canda yang
mengenalkan kita. Kala itu, kita sering bergurau, apapun itu. Leluconmu,
membuat perutku bergoncang tak karuan, hingga aku ingin menangis saking
letihnya aku tertawa. Dengar, Hei. Setelah lama kita meninggalkan
lingkar kehidupan yang tadi, aku selalu merindukan kisah-kisah itu.
Merindukan sesuatu yang mungkin tak akan bisa kembali lagi. Benarkan?
Tak seorang pun yang mampu memutar masa lalu kembali. Dan aku hanya
perlu membiarkan rindu itu tertahan tanpa ucapan. Tersenyum palsu dan
mengatakan bahwa aku telah melupakanmu.
Aku merindukan suaramu, Hei. Yang selalu memanggil namaku kencang.
Yang membuat telingaku harus terpasang merekam suaramu jika kamu
berceloteh. Agar suatu hari jika aku merindukanmu, aku bisa
menerka-nerka suaramu dalam otakku. Bisa mendengar tawamu meski tak akan
nyata kini.
Aku merindukan wajahmu, Hei. Yang kunilai nyaris sempurna. Sempurna,
seperti yang dipujakan perempuan lain. Aku ingin memandangmu lagi,
memandang garis senyum sempurnamu untuk kurekam. Untuk kusimpan lagi
dalam otakku, dan sewaktu-waktu aku bisa memutarnya lagi. Meski aku
harus meraba-raba, tidak jelas.
Sederhana sebetulnya. Aku hanya merindukanmu. Itu saja titik. Tanpa ada koma lagi.
Kini aku terkurung di dalam mobilku. Kosong menatap kap mobil yang
basah karena gerimis. Seperti yang kukatakan di awal. Hanya ada satu
alasan yang memungkinkan, penyebab aku kembali ke tempat ini. Yaitu,
rindu.
Dan waktu menyeretku ke jam yang telah berlalu barusan. Membawa
nostalgia yang nyata. Mempertemukan aku dengan teman-teman lamaku
setelah tiga tahun meninggalkan sekolah ini. Dan dirimu, Hei, ada di
antara ribuan manusia yang berkunjung ke gedung ini.
Aku tidak tahu bagaimana seharusnya, apakah aku harus berterimakasih
pada waktu yang telah mempertemukan kita kembali? Apakah aku harus
tertawa, menghampirimu, memelukmu, bertanya padamu ‘hei apa kabar?’
nyatanya aku tak akan bisa bertingkah seperti itu lagi padamu semenjak
empat tahun yang lalu. Kala itu kita bertransformasi menjadi orang yang
berbeda di mata masing-masing. Akukah yang mencoba menjauh? Ataukah kamu
telah melupakanku? Sejak itu kita hanya saling bertatapan tak mengerti
jika sesekali bertemu. Hanya diam dan mata yang mengisyaratkan hati kita
masing-masing. Menjadi kita yang tidak lagi saling mengenal.
Dan tatapan kaku itu kembali membeku ketika aku menemukanmu di gedung
ini. Kamu menatapku datar. Saat itu detik bereplikasi kembali dalam
satuan yang lebih kecil, memperlambat waktu. Mata itu, yang sering
menatap mataku dulu. Yang jemarinya pernah menghapus airmataku lembut.
Yang senyumnya meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Yang genggaman telapak tangannya menghangatkanku. Aku merindukanmu, Hei.
Gerimis kini telah berevolusi menjadi hujan. Airnya sebesar biji
jagung menghantam kap mobilku, berderu-deru. Aku memutar pandangan ke
sekitar, dari balik jendela. Menatap sekelilingku yang mulai sepi.
Manusia-manusia telah meninggalkan gedung ini satu jam yang lalu. Malam
mulai mengapit lara yang tak berarti apa-apa. Hujan menyebabkan
bintang-bintang malas bermunculan, bersembunyi di balik awan mendung.
Aku menghidupkan mesin mobil, dalam sekejap lampu depan dari mobilku
menyoroti jalanan. Kemudian aku segera tahu, di depan sana dirimu
berdiri di bawah lengkungan payung. Menghindari keganasan dari air
hujan. Membelah tirai hujan. Kamu menoleh untuk tersenyum. Memberikan
kehangatan di tengah lalu lalang angin yang bersahutan lirih. Membuat
siapa saja lepuh. Kamu kembali melangkah, masih mempertahankan senyum
mu. Dan kamu menggenggam tangannya. Menggenggam tangan seorang perempuan
yang kamu cintai dari semenjak empat tahun yang lalu. Perempuan yang
sama. Penyebabku menghindarimu.
Enam tahun, selama itu tak pernah perasaan bodohku terungkap di
hadapanmu. Didengar olehmu. Aku tidak menginginkannya, Hei. Karena satu
alasan, sederhana, aku mencintaimu tetapi kamu mencintainya.
Cerpen Karangan: Rizka Khaerunnisa
Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke
dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia
tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya.
“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim basket sekolah kita makin hebat ya.” sahut Dira
“Tim basketnya atau Aresnya yang hebat?” goda Alin
“Tim basketnya lah, Lin.”
“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Ares, udah 4 tahun lho,
Dir.” Alin seolah mengingatkan Dira tentang rasa cintanya pada Ares.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan
semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada
meskipun nggak selalu terlihat.”
“Dira… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain
antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut
seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.”
jawab Dira tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Dir.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Dira.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, Dir.” batin Alin.
Siang ini kelas Dira kosong, tanpa tugas. Dira memutuskan pergi ke
perpustakaan seorang diri. Dira memang paling suka membaca buku. Sikap
ini sangat bertentangan dengan sahabatnya, Alin. Jadi Dira selalu pergi
ke perpustakaan tanpa sahabatnya itu.
Dira duduk tepat di sudut kiri perpustakaan setelah selesai mencari
buku yang diinginkannya. Kebetulan perpustakaan sepi saat itu. Suasana
perpustakaan seperti itu yang Dira suka. Dan Dira hanya menempati meja
panjang itu seorang diri. Saat tengah asyik membaca buku, Dira merasa
seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Dira lantas mendongak.
Matanya beradu dengan mata seseorang. Sepersekian detik hanya seperti
itu sampai akhirnya orang itu menyapa Dira lebih dulu.
“Hai Dir, sendirian aja ya, boleh gue duduk di sini?” tanya cowok
berpostur tinggi bernama Ares menunjuk kursi yang ada di hadapan Dira.
“Eh, ehm.. iya nih, duduk aja Res.” jawab Dira tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Ares seraya duduk di hadapan Dira.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, jam kosong gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, kelas lo jam kosong juga ya. Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, Dir, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Lala kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, Dir. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Ares kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Dira heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah
ilfeel, Dir. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Ares
serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Lala yang secantik itu aja lo tolak.” suara Dira bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang.
Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun
kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Ares berkata
tulus.
Dira terdiam. “Kenapa ucapan Ares seperti ucapan gue ya?” Dira bertanya dalam hati.
“Dir, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Ares menyadarkan Dira.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Dira.
“Gue cinta banget sama dia, Dir, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Dira merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Ares begitu terasa di
hatinya. Semua ucapan Ares seperti sebuah parang yang menggores hatinya.
Ucapan Ares seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Res, gue duluan ya.” pamit Dira sebelum air matanya tumpah di depan Ares.
Ares ingin menahan kepergian Dira, namun dia mengurungkan niatnya. Ares menyadari ucapannya telah melukai hati Dira.
Ares memang sengaja mengucapkan semua itu untuk menyadarkan Dira
bahwa Dira harus menunjukkan perasaannya pada Ares. Ares telah
mengetahuai semua rahasia yang disimpan rapat oleh Dira selama 4 tahun
semenjak dia SMP hingga kini dia sudah akan lulus SMA.
Alin telah menceritakan semuanya pada Ares. Alin tidak tega melihat
Dira terus tersiksa dengan perasaan cintanya. Meskipun Dira bilang dia
tidak apa apa tapi Alin sudah beberapa kali memergoki Dira diam-diam
menangis setelah melihat kemesraan Lala dengan Ares. Selama ini Alin
membiarkan Dira menyimpan perasaannya dan berharap Dira akan menunjukkan
perasaannya itu pada Ares sebelum mereka lulus. Namun sampai saat ini
Dira tetap saja tidak menunjukkan rasa cintannya pada Ares. Akhirnya
Alin nekad memberi tahu Ares tentang perasaan cinta yang dipendam Dira
selama 4 tahun padanya. Dan kini Ares sudah mengetahuinya.
Semenjak bertemu dengan Ares di perpustakaan, sikap Dira menjadi
pendiam. Dia selalu menghindar bila bertemu dengan Ares ataupun saat
melihat Ares sedang bersama dengan Lala. Alin merasakan perubahan
sahabatnya itu. Namun Alin membiarkannya.
Dira juga tidak mau melihat pertandingan final tim basket sekolahnya.
Hanya karena Ares menjadi kapten basketnya. Dira ingin melupakan semua
perasaannya pada Ares. Namun semua itu terasa sulit. Ada sesuatu yang
masih mengganjal di hati Dira. Sesuatu yang membuat Dira tidak bisa
melupakan perasaan cintanya begitu saja.
Malam ini adalah malam minggu. Seperti malam-malam minggu biasanya,
Dira hanya diam di kamarnya. Kalau biasanya dia membaca buku, kali ini
tidak. Dira masih memikirkan perasaannya pada Ares. Apakah dia memang
harus melupakan semua cintanya? Sanggupkah Dira melakukannya? Semua itu
membuatnya semakin galau. Tiba-tiba HP-nya bergetar. 1 New Message
tertera pada layar touchscreennya.
from : Ares
Dir, tlg tmenin gw. Plis…
to : Ares
kmna?
from : Ares
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim basket kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.
Dira menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Ares sudah
bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Dira menghela nafas
berat. Sebenarnya Dira ingin menolak tapi melihat Ares sudah berada di
depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Ares, Dira
segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Dira ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi,
Ares malah mengajak Dira mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang
dihiasi dengan banyak lampion Ares menghentikan laju motornya. Dari atas
bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat
mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Dira memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Lala. Semakin hari semakin muak gue sama
tingkahnya.” jawab Ares. Dira hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“Dir…” panggil Ares.
“Ya.” jawab Dira.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya Ares tanpa menatap Dira.
“Maksud lo?” Dira balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Ares.
Ares justru diam tanpa menjawab pertanyaan Dira. Melihat Ares tidak
bereaksi, Dira pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang
tercipta.
Ares kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti
bintang-bintang itu?” tanya Ares menunjuk taburan bintang di langit,
“selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Res.” Dira pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari
pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Lala
misalnya. Kenapa Dir?” Ares menatap Dira.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Dira menghela nafas, “gue punya
cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi
seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang
penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue
seneng, Res.” jelas Dira berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak Dir, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin
cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan
seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati
salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.”
kata Ares penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Res. Lo nggak salah sama sekali.
Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah
seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi
karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama
ini.” Dira mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, Dir. Lo pikir gue akan biarin cewek yang
udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir
cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga Dir, gue
cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!”
kata Ares keras.
“Ares, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 4 tahun ini. Gue kira dengen deket
sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi
nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue
pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket
sama Ryan. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun
sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Ares.
“Gue emang sempet deket sama Ryan tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat,
nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Dira menyeka air
matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“Dir, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan
bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di
hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku
kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin.
Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka,
aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat
aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Ares menggenggam tangan
Dira erat.
Dira kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Res, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Dira memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, Dir. Percaya sama aku. Aku akan
bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.”
jawab Ares mantap.
“Gimana, Dir?” tanya Ares tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Dira.
“Maksud kamu, Dir?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, Dir.” Refleks Ares memeluk Dira, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Ares melepaskan pelukannya. Dia menatap Dira dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Dira menyandarkan kepalanya di bahu Ares.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Ares seraya membelai rambut Dira.
Malam itu Ares dan Dira menghabiskan malam minggu berdua di bukit
yang mereka namakan bukit bintang sambil mengamati indahnya hamparan
bintang yang bersanding dengan bulan di langit. Tanpa mempedulikan
teman-teman Ares yang tengah menunggu sang kapten untuk merayakan
kemenanngan tim basketnya.
Bintang itu kini tidak lagi bersembunyi, bintang itu kini akan selalu ada dan selalu nampak. Di hati Ares dan Dira tentunya.
- END -
Cerpen Karangan: Dera
Laki-laki itu lagi!
Dadanya berdebar-debar.
Joanna lupa berapa kali sudah laki-laki itu datang ke toko ini, toko
yang menjual bunga dimana ia bekerja. Yang ia ingat, laki-laki itu
selalu hanya datang, melihat-lihat dan bertanya. Itu saja. Tapi tak
membeli apa-apa.
Seperti yang seharusnya dilakukannya, ia sudah menyambut dengan cara
terbaik pada setiap orang yang datang. Ia pun melakukannya pada
laki-laki itu. Memperlihatkan wajah terbuka, senyum keramahan penuh rasa
hormat, menemaninya melihat-lihat dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya
tentang bunga. Ia melakukannya pada mungkin ratusan orang yang telah
datang, dan ia senang hati melakukannya. Ia sudah terbiasa sejak bekerja
disana, dan ia merasa begitulah seharusnya orang yang melakukan
pekerjaan menjual. Seringkali orang menjadi semakin ingin membeli ketika
ia menemukan sesuatu yang diinginkan atau sesuatu yang dibutuhkan
mendapat penghargaan dari seseorang yang menjualnya, yang mampu membuat
kesan sesuatu itu sedemikian bernilai dimana ia memang pantas
membelinya, dan begitulah seharusnya. Keinginan akan menjadi semakin
kuat ketika ia menemukan penghargaan pada dirinya, tulus dari seseorang
yang menjualnya.
Semua orang yang datang membeli bunga pada akhirnya, tapi tidak
dengan laki-laki itu. Ia hanya datang dan datang saja. Mula-mula Joanna
berpikir tentang apa yang mungkin belum dilakukannya yang bisa membuat
laki-laki itu kemudian memutuskan untuk membeli bunga.
‘Aku sudah melakukannya, dan tak pernah gagal pada orang lainnya.’ Demikian ia menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
Ia berkesimpulan, laki-laki itu barangkali tak punya cukup uang, atau
mungkin ia belum terbiasa membeli bunga untuk sesuatu, tapi ia ingin
mencobanya. Atau, ia memang datang bukan untuk membeli bunga. Lalu untuk
apa? Untuk membuatnya merasa sia-sia saja melakukan pekerjaannya
menjual bunga dengan cara terbaik?
Beberapa waktu sebelumnya ketika ia tak juga menemukan jawaban
tentang pertanyaannya sendiri mengenai apa sebenarnya keinginan
laki-laki itu, selalu datang tapi tak membeli apa-apa, ia mulai merasa
kesal.
Siang ini Joanna sudah merasa kesal begitu ia menangkap bayangan
laki-laki itu memasuki pintu, berjalan tenang dengan kedua tangan
dimasukkannya ke dalam saku jaket seperti biasa dan kembali berkeliling
melihat-lihat.
“Boleh saya bertanya?” Joanna mendekat. Ia menahan rasa kesal yang
sejenak sudah terbit dan menyembunyikannya di balik senyum ramahnya
seperti biasa. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa ia tak mengulas
senyum dengan setulusnya pada tamu di toko bunga ini.
“Silakan.” Sahut laki-laki itu. Seperti biasa, datar dan tanpa ekspresi apapun.
“Apa yang sebenarnya anda inginkan datang ke sini?”
“Saya ingin membeli bunga.” Jawab laki-laki itu tenang dengan suara tanpa tekanan.
Membeli bunga katanya? Apakah ia lupa bahwa ia selalu hanya merepotkanku dalam setiap kedatangannya?
“Anda belum membelinya sejak pertama kali anda datang.” Kata Joanna. Ia
ingin laki-laki di depannya tak melupakan hal itu. Perkataannya mungkin
akan melukai perasaan laki-laki itu, tapi ia tak ingin merasa bersalah
karena mengucapkannya. Laki-laki itu harus tahu.
“Saya akan membelinya pada saat yang tepat.”
Jawaban aneh, pikir Joanna. Seharusnya ia tahu kapan saat yang tepat. Untuk apa ia datang jika ia tahu saatnya belum tepat.
“Saya berharap sekarang ini adalah saat yang tepat!” Kata Joanna. Ia
mencoba membicarakan kemungkinan-kemungkinan baik untuk mengurangi
kekesalan dalam hatinya yang terus berduyun-duyun.
Laki-laki itu menggeleng. Joanna menghela nafas, sia-sia ia menahan
dirinya. Laki-laki itu tak seperti kelihatannya, tenang, tapi membuatnya
kesal.
“Setiap saat adalah saat yang tepat, tapi saya merasa akan sia-sia saja.” ujar laki-laki itu lagi.
Kenapa kau tak keluar saja, menjauh dari toko ini? Apa kau tak tahu kau
mulai membuatku merasa kesal? Aku mengerahkan segala rasa hormat tapi
kau menukarnya dengan kata-kata aneh, kau pikir itu kata-kata yang
bagus? Kata-kata yang menyenangkan menurutmu? Kau tahu, itu konyol sama
sekali!
“Sia-sia? Anda yakin akan sia-sia saja?”
“Benar! Kadang saya memutuskan untuk mengirim padanya bunga, agar ia
tahu saya memiliki mimpi untuk memiliki hatinya.” Kata laki-laki itu
tepat pada saat Joanna beringsut dan memutuskan untuk membiarkan saja
laki-laki itu sampai ia bosan sendiri dan melangkah keluar dari toko
ini. “Tapi saya merasa akan sia-sia saja!”
Langkah Joanna terhenti oleh kata-kata itu.
“Bukankah menundanya akan membuat mimpi anda lebih sia-sia? Tentu tak
hanya anda seorang yang memiliki mimpi untuk memiliki hati seseorang itu
bukan?” Joanna mencoba memberinya gambaran, agar laki-laki itu segera
berkeputusan. Membeli bunga atau tidak, ia tak peduli lagi.
Tapi, berhentilah membuatku kesal, orang lain yang datang nanti akan
ikut merasakan kekesalanku, mereka akan mendapat kesan tak baik, dan itu
tak baik untuk toko ini.
“Ya!”
“Bagi saya tak menjadi masalah kalau pun anda tak jadi membeli bunga,
tapi mungkin akan menjadi masalah bagi mimpi anda. Bukan tentang bunga,
tapi tentang memberitahu mimpi anda padanya. Anda tak harus
mengungkapkannya dengan bunga jika anda memang tak ingin membelinya!”
“Saya pertama kali melihatnya sungguh terkesan, saya tak percaya tentang
cinta pada pandangan pertama. Bagaimana mungkin baru melihat saja
seseorang bisa jatuh cinta! Tapi saya mengalaminya, saya memikirkannya
dan setiap hari saya pergi ke tempat di mana pertama kali saya bertemu
dengannya.” Laki-laki itu bercerita.
“Sebaiknya temui saja seseorang itu, menceritakannya pada saya akan
sia-sia saja!” Sahut Joanna. “Saya mungkin bisa membantu kalau anda
bertanya tentang bunga apa yang paling tepat untuk anda beli dan anda
gunakan untuk mengungkapkan cinta pada pandangan pertama anda pada
seseorang itu!”
“Bunga apa yang paling tepat menurutmu?”
“Saya sudah memberitahu pada anda sebelumnya bukan? Anda akan
menanyakannya itu terus menerus sedangkan anda sama sekali tak
membelinya?”
“Maafkan saya, tapi saya akan membelinya suatu saat, saya tak tahu kapan
persisnya, tapi saya akan membelinya dan memberikan padanya.” Kata
laki-laki itu. “Saat itu adalah saat yang tepat dan itu tak akan
sia-sia!”
“Saran saya adalah, jangan terlalu lama menundanya, meskipun tanpa
menundanya sekalipun bukan berarti mimpi akan pasti tergenggam. Tapi
setidaknya anda tak terlambat! Anda takkan bisa melakukan apa-apa lagi
jika seseorang itu telah dimiliki orang lain!”
“Saya tak terlalu berharap dengan mimpi itu, tapi saya ingin
memberitahunya tentang mimpi itu sendiri pada saat yang tepat, agar saya
tak membuatnya sia-sia!”
“Saya tak mengerti maksud anda!” Joanna mulai tidak sabar. Kata-kata
laki-laki itu tak masuk akal. Rasanya laki-laki itu tak berani untuk
mendekati seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta. Ia hanya
kebingungan dengan keinginannya.
“Maaf, telah membuat ketidaknyamanan di sini. Ketika semuanya sudah tak
mungkin, saya tak akan melakukannya. Tapi percayalah, saya akan membeli
bunga suatu ketika!” Laki-laki itu mengangguk sedikit, lalu berbalik dan
berjalan menuju pintu, lalu keluar.
Terserah, kau mau membelinya atau tidak! Lebih baik kalau kau tak datang
lagi! Batin Joanna memekik menumpahkan kekesalannya. Ia lalu
menghampiri kursi dan duduk.
Selama berhari-hari Joanna kehilangan semangat untuk bekerja.
Laki-laki itu pasti akan datang dan datang lagi. Berbicara tak keruan
dan membuat suasana jauh dari menyenangkan seperti pada saat laki-laki
belum datang.
Tapi sejak kedatangan terakhir yang membuatnya sangat kesal, laki-laki
itu belum datang lagi. Sedikitnya Joanna merasa senang, orang-orang yang
datang membeli bunga untuk bermacam keperluan mereka semuanya
menyenangkan dan ia melayaninya dengan senang hati.
Hingga terlewat waktu sebulan, laki-laki itu tak datang lagi. Joanna
lega, meski kadang ketika siang datang ia masih takut laki-laki itu akan
datang lagi.
“Selamat siang, mau membeli bunga apa?” Joanna bertanya pada seorang
perempuan cantik yang baru saja masuk dan melihat-lihat bunga-bunga yang
dipajang. Perempuan itu tersenyum padanya. Senyumnya manis sekali.
“Saya ingin sekali membeli mawar ini!” Sahut perempuan cantik itu menunjuk setangkai mawar merah.
“Pasti anda akan memberikannya pada suami atau pacar anda.” Kata Joanna disertai senyum untuk menyenangkan hati pembelinya.
Perempuan cantik itu tertawa kecil.
“Anda selalu tahu!” Katanya sambil mengerling pada Joanna dan tetap
dengan senyumnya. “Tapi, sebelumnya saya ingin sekali bertanya, mungkin
anda tahu, atau ingat sesuatu!”
“Dengan senang hati, kalau saya tahu, atau ingat sesuatu yang anda
maksud.” Sahut Joanna. Ia menyodorkan sebuah kursi plastik pada
perempuan cantik itu.
“Silakan duduk!”
“Terima kasih!”
Perempuan cantik itu lalu duduk. Joanna mengambil kursi berbeda dan kini mereka duduk berhadapan.
“Apakah pernah ada seorang laki-laki datang ke sini? Maksud saya dia
masih muda dan hampir setiap hari datang ke sini?” Tanya perempuan
cantik itu. Joanna berusaha menyembunyikan ekspresinya yang terkejut
sebenarnya. Semoga laki-laki yang dimaksud perempuan cantik itu bukan
laki-laki menyebalkan itu. Ia baru beberapa hari bisa tenang dan
menemukan kembali mood-nya bekerja setelah selalu merasa terganggu oleh
kedatangan laki-laki itu.
“Saya tak tahu siapa yang anda maksudkan, tapi mungkin saya bisa mengingat orang-orang yang sering datang ke sini.” Kata Joanna.
“Dia bercerita bahwa dia setiap hari datang ke sini, tapi ia tak membeli bunga, hanya melihat-lihat saja!”
Benar, dia menanyakan laki-laki itu. Ada apa dengan perempuan cantik itu?
Hei, mungkin ini seseorang yang dimaksud laki-laki itu? Seorang
perempuan cantik yang telah membuat laki-laki itu jatuh cinta tepat pada
pandangan pertama? Ia mengerti sekarang, mungkin laki-laki itu telah
berhasil mendekati seseorang itu, ya, perempuan cantik ini!
Artinya laki-laki itu takkan merepotkannya lagi hanya karena
kebingungannya sendiri. Mungkin ia memikirkan kata-kataku dan sekarang
telah berhasil mendapatkan pujaan hatinya. Mungkin laki-laki itu
bercerita pada perempuan cantik ini betapa selama berhari-hari ia
kebingungan di toko bunga. Pasti lucu sekali.
“Saya tak tahu persis, tapi apakah anda menanyakan seorang laki-laki
yang mengenakan jaket baseball dan berambut agak panjang?” Tanya Joanna.
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum. Di mata Joanna perempuan cantik
itu terlihat senang sekali. Tentu sebuah kisah luar biasa tengah mulai
mereka jalin saat ini.
“Ya, benar sekali! Ia memang sering datang kemari kira-kira dua atau
tiga bulan lalu?” Wajah perempuan cantik itu sepertinya ingin sekali
tahu. Mungkin perempuan itu ingin bersenang-senang dengan cerita tentang
laki-laki yang memujanya dariku? Tentang yang dilakukannya di sini
selama ini?
“Maafkan saya!” Ujar Joanna. “Di hari terakhir dia datang, saya merasa
sangat kesal. Karena dia hanya selalu bertanya atau bercerita saja. Saya
harus mengakui bahwa saya terganggu sebenarnya. Saya berusaha
melayaninya dengan baik, tapi saya merasa dia sangat merepotkan saya.
Kadang saya memang tak selalu bisa berhasil menghadapi setiap orang yang
datang ke sini.”
Perempuan cantik itu tersenyum.
“Maaf soal sikap saya ini.” Kata Joanna.
“Tak apa. Saya sangat bisa mengerti, terkadang begitulah seseorang yang
jatuh cinta, sulit untuk tak berbuat bodoh.” Sekali lagi perempuan
cantik itu tersenyum. “Anda tahu, itu tak mudah baginya. Membuat anda
merasa tidak nyaman bukan keinginannya, tapi itu bukan tanpa alasan.”
Kata perempuan cantik. Joanna menyembunyikan kebingungannya akan
kata-kata perempuan cantik itu yang sama sekali tak dimengertinya.
“Dia akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya pada anda?” Tanya Joanna.
“Maaf, maksud anda?” Perempuan cantik itu balas bertanya.
“Dia bercerita tentang cinta pada pandangan pertama, tentang mimpinya
untuk memiliki hati seseorang. Ia ingin mengirim bunga pada anda, tapi
ia tak tahu kapan saat yang tepat. Menurut saya mungkin dia tak cukup
memiliki keberanian untuk mendekati anda dan mengungkapkan semuanya.”
Ujar Joanna. “Melihat anda, saya bisa mengerti kenapa bisa begitu. Saya
pikir mendekati wanita secantik anda membutuhkan keberanian bagi seorang
laki-laki.”
“Mendekati saya?” Perempuan cantik itu tampak keheranan.
“Saya pikir seseorang yang diceritakannya itu anda, bukan begitu?” Joanna menegaskan.
“Sebenarnya tidak!” Perempuan cantik itu membetulkan kembali posisi
duduknya. “Begini, saya datang memang ingin menceritakan sesuatu tentang
dia.”
Menceritakan sesuatu tantang dia padaku? Untuk apa? Joanna merasa perempuan di depannya itu aneh.
“Maaf, saya tak tahu, tapi, apakah itu penting untuk saya?”
“Ini memang tentang anda!” Jawab perempuan cantik.
“Tentang saya?”
Perempuan itu mengangguk. Joanna merasa keheranan. Apa maksud perempuan cantik itu sebenarnya. Ia tiba-tiba merasa tak nyaman.
“Saya tak memiliki urusan apa-apa dengan dia, bagaimana mungkin
tiba-tiba anda berbicara mengenai saya. Saya pikir ini tentang anda dan
dia!”
“Ini memang tentang anda. Laki-laki itu membicarakan tentang seseorang dan sebenarnya, seseorang itu adalah anda!”
“Saya?”
Kembali perempuan cantik itu mengangguk.
“Tidak mungkin!” Sahut Joanna. “Anda salah orang!”
“Tidak mungkin saya salah!” Kata perempuan cantik. “Ini toko bunga Andalusia Florist, bukan?”
“Ya, benar!”
“Maaf, mungkin ini adalah sesuatu yang konyol. Pada mulanya saya juga
menganggapnya begitu ketika dia mulai bercerita tentang seorang gadis di
toko bunga Andalusia Florist.”
Joanna merasakan dadanya berdesir-desir mendengar ucapan perempuan
cantik itu. ia benar-benar merasa tak nyaman sekarang. Dulu laki-laki
menyebalkan, sekarang seorang perempuan cantik yang aneh. Apakah mereka
memang ingin bergantian untuk membuatku kesal?
“Maaf, tapi saya benar-benar tidak mengerti!” Joanna mulai berpikir
lebih baik jika perempuan itu pergi saja. Tak membeli bunga bukanlah
sebuah masalah besar bagi toko ini, tapi membeli satu bunga dan
meninggalkan kegelisahan jelas suatu masalah.
“Laki-laki itu adalah kakak saya!” Perempuan cantik itu menatap Joanna
lekat-lekat. “Dia bercerita bahwa suatu hari dia melintas di depan toko
ini dan melihat anda sedang menata bunga di luar. Dia mengatakan tak
bisa menahan diri untuk datang setiap siang ketika beristirahat, karena
dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anda!”
Jelas sekarang, ia salah menduga. Tapi Joanna merasa malas untuk
berpikir, kecuali satu kesimpulan saja bahwa laki-laki itu memang aneh,
laki-laki pengecut. Ia tak menyesal dengan rasa kesal padanya. Pasti ia
seorang pecundang yang selalu banyak alasan.
Sekarang ia menyuruh adiknya untuk mendekatiku? Laki-laki macam apa itu?
Joanna berjanji dalam hatinya sendiri akan membiarkannya kalau ia
datang lagi kesini. Kapanpun, besok, atau lusa, atau… terserah!
“Saya rasa, saya harus kembali bekerja!” Kata Joanna akhirnya. Perempuan itu mencegahnya berdiri dengan memegang tangannya.
“Maaf kalau anda mendapat kesan kurang menyenangkan dari kakak saya.” Kata perempuan cantik.
“Anda selalu menolong kakak anda kalau ia ingin mendekati seseorang?”
Tanya Joanna sedikit sinis. Sulit dipercaya seorang laki-laki menyuruh
adik perempuannya untuk mendekati seorang gadis yang dimimpinya.
“Kakak saya telah divonis dokter bahwa umurnya mungkin tak lama lagi.
Saat itu ia masih kuliah. Tapi entahlah, vonis dokter kadang bisa
kebetulan sama dengan apa yang digariskan Tuhan melalui takdirnya, tapi
seringkali salah! Kakak saya ternyata bertahan sampai ia bekerja, ia
membiayai kuliah saya, dan dia sendiri kuliah lagi. Kanker otak yang
menghantuinya tak membuat semangatnya bekerja hilang. Ia bahkan
terlampau bersemangat, dan seringkali ia lupa bahwa ia mengidap penyakit
mematikan dan semestinya dia juga memperhatikan dirinya.” Perempuan itu
bercerita. Joanna mendengarkannya setengah hati saja. Apa yang menarik
dari cerita itu? Drama yang sudah sering didengarnya.
“Penyakit itu tak mampu menggerogoti juga semangat hidupnya. Tapi tentang cinta, penyakit itu membuat penderitaan lain baginya.”
Perempuan itu diam sejenak. Memandangi Joanna mencari-cari sesuatu. Apa yang dia cari? Kau akan menemukan tumpukan kekesalanku!
“Jika membicarakan tentang masa depan, seakan ia akan hidup jauh lebih
lama dari orang lain yang sehat sekalipun. Tapi ketika membicarakan
tentang cinta, ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar tak punya
harapan hidup lagi. Ya, penyakit itu membuat ia memilih meninggalkan
kekasihnya.”
Joanna memilih diam mendengar lanjutan cerita tentang laki-laki itu.
Baginya perempuan itu tak lebih dari seseorang yang tengah mempromosikan
sesuatu. Tepatnya sesuatu yang dramatis. Barangkali untuk menarik
simpatinya, atau, ah! Orang selalu memiliki akal. Teruskan saja, tapi
maaf kalau aku tak tertarik. Rasanya itu bukan sesuatu yang seharusnya.
“Ia selalu mengatakan pada saya bahwa ia merasa tenang dengan
menyibukkan diri tenggelam dengan pekerjaan. Ia merasa akan hidup lebih
lama. Ia mulai mencoba melupakan hatinya sendiri yang kosong.
Membiarkannya kosong selalu lebih baik, sebab ketika hatinya terisi, ia
kembali pada sebuah pemikiran yang terlanjur tertanam di hatinya, ia tak
mempunyai banyak waktu hingga saat ajalnya datang!”
“Suatu malam ia bercerita tentang seorang gadis di toko bunga. Ia
berkata bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia merasa
sangat sedih, tapi juga bahagia! Sedih karena di hati yang telah
dibiarkan kosong dan mana ia menutup rapat-rapat, tiba-tiba dimasuki
seseorang yang menggetarkannya. Tapi juga membuatnya merasa bahagia.
Saat itu ia mulai berkata bahwa ia mungkin takkan lebih lama lagi
bertahan. Ia meminta pada saya untuk menemui anda ketika dia telah
meninggal, membeli bunga dan menceritakan semuanya. Saya sedikit merasa
kesal dengan perkataannya yang mendahului kehendak Tuhan menurut saya.
Tapi, dia memang unfall untuk yang terakhir kali dan dia benar-benar
pergi!”
Laki-laki itu telah meninggal?
“Ya, ia telah meninggal!” Kata perempuan cantik itu seakan tahu
pertanyaan dalam hatinya. “Ia berkata, kalau aku mendekatinya, apapun
akan sia-sia saja. Ia memilih datang setiap siang sekedar untuk melihat
anda.”
—
Joanna tercenung. Ia masih belum bisa melupakan perempuan cantik yang
datang kemarin hari dengan ceritanya yang masih sulit untuk bisa
dimengerti. Perempuan itu akhirnya membeli setangkai mawar lalu
memintanya untuk menerima bunga itu sendiri dan sepucuk surat.
Aneh, tapi ia tak bisa menolaknya.
“Seperti yang telah saya janjikan, saya membeli setangkai mawar. Saya
hadiahkan mawar itu untuk seorang gadis di toko bunga ini. Saya merasa
bersalah membuatnya tak nyaman untuk waktu yang cukup lama. Maafkan
saya.
Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan hati gadis di
toko bunga. Tapi, sungguh tak adil kalau saya berusaha mendekati seorang
gadis dan mati-matian untuk membuatnya jatuh cinta dan memiliki
hatinya, tapi setelah itu saya hanya akan membuatnya kecewa. Itulah
kenapa saya katakan sia-sia saja saya mengungkapkan keinginan saya
memiliki hati gadis di toko bunga.
Sedikit saya ceritakan, saya telah divonis dokter takkan hidup lebih
lama lagi. Saya telah meninggalkan kekasih saya karena saya tak ingin
membuatnya merana kehilangan, jika tiba-tiba saya mati. Tak bijaksana
bukan jika saya berusaha memiliki hati gadis di toko bunga itu,
sedangkan itu hanya akan membuatnya kehilangan?
Maaf atas kesan kurang baik saya dalam setiap kedatangan saya. Saya
ingin anda mendapat kesan itu. Karena saya telah jatuh cinta pada gadis
di toko bunga. Jatuh cinta adalah sesuatu yang sangat indah. Membuat
lupa segalanya, bahkan terkadang membuat seseorang menjadi berbuat
bodoh. Maafkan atas kekonyolan ini!”
Ini memang konyol sekali.
Joanna melipat kembali surat dari laki-laki yang dibawa oleh
perempuan cantik itu. Ia berharap hari segera berganti dan ia tak ingin
mengingat-ingat lagi. Tentang laki-laki yang selalu datang di toko
bunga.
Hari ini, takdir Tuhan benar-benar membuatku takjub. Sudah 2 tahun
aku tidak bertemu dengan seorang laki-laki yang berhasil mencuri cinta
dariku untuk yang pertama kalinya, dan sekarang tanpa aku duga dia
pindah satu sekolah bareng aku. Dan ketika kenaikan kelas sebelas. Aku
ditakdirkan satu kelas dengannya.
Tuhan, Dia satu sekolah denganku saja aku sudah kehabisan kata-kata. Dan sekarang Engkau menakdirkan aku satu kelas?
Saat pertama kali masuk ke kelas XI-IPA 2 aku benar-benar tidak tahu
apa yang harus aku perbuat. Jantungku benar-benar ingin meledak. Sosok
yang pertama kali aku cari adalah “Dia” cinta sekaligus pacar pertamaku.
Saat bel masuk sudah berbunyi, masih tidak ku temukan sosoknya.
“Mungkin dia tidak sudi satu kelas denganku…” batinku. Namun dugaanku salah. Setengah jam kemudian dia datang.
Senyum bahagia merekah di sela-sela bibirku.
“Eh ngapain senyum-senyum sendiri? Kesurupan ya? Hahaha..” Tanya Fifid teman sebangku ku
“enak aja! Rese’ ah kamu..” Jawabku cemberut.
“Yeee.. Biasa aja kali bibirnya gak usah manyun 10 senti gitu..”
Aku tidak memperdulikan Fifid lagi. Terserah dia mau ngedumel apa. Ada
hal yang lebih penting ketimbang meladeni fifid. Yaitu memperhatikan
seorang yang sangat aku cintai sedang dihukum di depan kelas.
Sudah 2 bulan aku satu kelas dengannya, tapi sebatas ngobrol atau
saling melempar senyum saja gak pernah. Ya Tuhan.. Dia benar-benar gak
peka sama perasaanku. Ya.. Memang seharusnya begitu. Karena dia sudah
mempunyai seorang pacar. Setiap hari pacarnya datang ke kelasku.
Rasanya muak dengan semuanya. Bagaimana tidak? Mereka berdua
beradegan romantis di depan mataku. Tapi, ternyata waktu membuatku
terbiasa dengan semua itu. Aku tabah. Cuma buat dia. Ya.. Cuma buat dia.
Semakin hari aku semakin tidak kuat menyembunyikan perasaanku. Aku
masih mencintainya. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membisu.
Ternyata Tuhan benar-benar mendengar doaku. Setelah berbulan-bulan
aku hanya terlihat seperti orang asing baginya. Sekarang tidak lagi. Dia
pindah tempat duduk di sampingku. Ya meskipun berjarak satu bangku.
Tapi itu masih bisa dikategorikan di sampingku.
“Eh Stef.. Minjem headsetmu” kataku pada sahabatku Stefi saat jam pelajaran agama kosong
“Aku juga pinjem step..”
“Enak aja, aku duluan yang pinjem..”
“gak bisa, aku duluan stef..”
“Aku duluan!”
“Lagian Handphonemu kan lagi dicharger..”
“iya.. Iya.. Nih!” aku menyerahkan headset kepadanya.
Dia hanya menatapku, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Itu untuk pertama kalinya aku bertengkar dengannya sejak satu kelas.
Saat jam terakhir, dia pindah duduk di belakangku. Aku benar-benar
tidak berani menolehkan kepalaku. Tiba-tiba fifid tertawa sendiri
“Kenapa kamu haaa?” tanyaku.
“Lihat aja. Di jilbabmu ada tulisan apa? Hahaha..”
Aku menoleh dan ternyata ada kertas yang menempel dengan tulisan yang
benar-benar tidak sopan. “Siapa yang nempelin ini? Kamu far?” tanyaku
sambil mendelik ke arah ghofar.
“Enak aja! Tuu pelakunya si vicky..” Aku tidak berani berbuat apa-apa
kalau dia yang melakukan. Ku lihat dia pura-pura tidur. Ingin rasanya
menjitak kepalanya itu. Tapi aku tidak berani.
Semakin hari aku sering bercandaan dengannya , meskipun bareng
teman-teman yang lain. Tapi itu cukup membuatku merasa bahagia. Saat jam
istirahat, dia disamperin pacarnya. Ya itu memang sudah menjadi
rutinitas mereka. Cemburu kerap kali menghampiri. Tapi aku mencoba tetap
tabah.
Banyak hal yang membuatku merasa heran, ketika kaos olahragaku
hilang. Beberapa hari kemudian. Kaos olahraganya juga hilang. Aku heran
sekali sungguh. Apa ini yang dinamakan jodoh? Tanpa diduga banyak
peristiwa yang tanpa sengaja bisa sama. Aku harap begitu. Hingga detik
ini aku masih setia menunggumu, dan mencoba tetap tabah meski aku sering
melihatmu bersama pacarmu.
Cerpen Karangan: Ana Suciati
Aku memulai saat semuanya terasa beku. Entah karena aku terlalu
berlebihan ataukah semuanya memang serba menuntutku. Aku melihat saat
hiruk pikuk tak peduli, Aku memulainya. Semua berawal tanpa sekedar
pagi. terlihat berbeda memang ketika formulasi keadaan dan kebiasaan ini
berbanding terbalik. Menerjang egois dan seperti menginstall ulang
semua program di fikiranku. Segalanya akan ku tulis mulai hari ini.
Skenario kehidupan yang tak akan pernah kita mengerti. Mengapa
persegi tidak bulat? mengapa siang malam tidak bersamaan? bagaimana
mungkin seekor anak ayam menetas dari telur yang keluar dari dirinya
sendiri? jawaban dari pertanyaan yang sama sekali tidak masuk akal.
Pertanyaan yang sama halnya dengan Mengapa aku bertemu kau?
Saat satu per satu elang mulai terbang beriringan… saat proses
pengembunan selesai. Saat itu pula semu bayangan terlihat jelas, terik
dan gerahnya segala suasana.
OSPEK
Momok abadi yang setiap mahasiswa hadapi. Rasa malas acap kali
menginjak kampus, kampus baru ku. Metamorfosis yang seperti datang tiba
tiba. Seuntai cerita yang berbatu di tempat ini, tak pernah ku gambar
sketsa semua ini yang berjalan bak halilintar saat siang. Aku melihat
jauh.. teropong yang tak pernah bohong membumbung arah sekian kali.
Masih asing memang, namun jiwa mu seperti telah hadir lama. Entah itu di
mimpiku ataukah khayalan samar samar ku yang terlalu kupaksa jelas.
Sosok yang teramat arif, senyum yang meneduhkan. Hanya sesederhana itu,
Kau.
Hari pertama ospek
Bangun tidur lebih awal dari biasanya dan harus kusiapkan segala macam
atribut aneh yang akan ku pakai nanti. Tanpa berfikir lama untuk sarapan
aku langsung berangkat menuju kampus. Dengan hati yang tidak tenang dan
tergesa gesa.
Greeekkk… Gerbang kampus sudah ditutup. Salah satu senior yang
menunggu di depan gerbang berdiri tegak dan siap menghukum siapapun yang
terlambat. Dan aku salah satu di antara yang terkena hukuman hari ini.
“Kenapa kalian terlambat? Ini baru hari pertama masuk”
“Rumah saya jauh kak” jawab seseorang yang ada di barisan paling depan
“Mentang mentang rumah jauh terus terlambat? Alasan!” Gertak salah senior yang lain
Akhirnya kami pun dihukum di depan mahasiswa baru yang lain.
“Zahra, mana Topi mu?” Tanya seorang kakak tingkat yang berbadan gemuk agak tinggi itu
Astaga, Topi yang ku buat sampai larut malam lupa ku bawa
Apakah ini hanya kebetulan atau sebuah garis takdir yang datang tiba tiba?
Peristiwa kecil ini mengantarkan aku untuk sedikit saja mulai mengenalmu.
Aku dihukum dan ditugaskan mencari salah satu senior kampus ini. Ya,
aku mencari nama yang baru pertama ku dengar, Lalu lalang mahasiswa baru
dan senior membuatku kikuk mencari. Suara teriakan maba yang sedang
dihukum makin membuat aku harus berulang kali menghela nafas. Dan
akhirnya saat sosok yang tak kuduga muncul, gerakan kaki dengan langkah
pasti berjalan di depan dengan Co Card Senior yang sama persis dengan
nama yang ku cari. Kau…
Iqbal Aldian Ghifary. Nama yang untuk pertama kali ku ucap setelah
berulang kali lubuk ini menerjemahkan mu. Nama yang tak pernah ku fikir
akan menjadi berjuta kali lipat ku sebut dalam perjalanan ku. Nama yang
mengukir semu bayang menjadi kenyataan nan indah.
Saat satu demi satu senior berlagak memukau di depan mahasiswa baru,
bertingkah sesuka dirinya. Berbicara tanpa memahami betapa repotnya
junior yang menghadapi. Tampak sosok yang tenang. Kesederhanaan yang
membuatnya bagaikan putih di antara laut hitam. Kearifan yang menghiasi
jiwa nya, dan ketulusan yang melengkapi nya.
Hari Kedua Ospek
“Setiap kelompok ospek wajib menampilkan inagurasi di acara puncak
besok, Hari terakhir. Dan setiap kelompok akan di dampingi oleh satu
panitia. Berikut saya bacakan nama nama yang menjadi pendamping” Jelas
panitia ospek.
Dan tiba saat kelompokku disebutkan
“Kelompok edelweis akan di dampingi kak Iqbal Aldian Ghifary, Silahkan menuju tempat yang telah disediakan”
Deg, detak jantung ini seperti berhenti tiba tiba mendengar nama itu,
Kau. Satu lagi Kebetulan datang yang semakin membuatku mengenalmu. Tak
seperti merpati, semakin lama eloknya sepudar warna beribu cahaya yang
membuatnya luntur. Setiap momen kecil yang tak ingin ku abaikan. Setiap
berjalannya seperempat detik yang tak ingin ku lewatkan sia sia. Detak
jantung yang terhitung cepat saat melihat mu. Aku sudah cukup dewasa,
Ayah. Ijinkan rasa ini bergulir meski tak tau dimana akan bermuara.
Tiba saat Hari Terakhir ospek. Acara yang melelahkan, Wide Game. Aku
harus berjalan berkilo kilo meter bersama maba yang lain. Di suguhi
permainan yang tak sedikitpun mengasyikkan. Setiap permainan yang
membuat muka dan badan kotor. Dan saat pos terakhir akan dilewati. Saat
itu pula untuk ketiga kalinya aku melihatmu jelas. Nama yang lagi lagi
kusebut dalam hati. Hanya akan mengagumi saat ikan koi lincah menyobek
air. Saat sayap sayap langit tampak berterus terang tentang cerahnya
hari ini. Semakin hilangnya gumpalan awan yang melukis seluruh biru.
Dihiasi selarik warna putih yang kuharap adalah kau. Laksana muatan
negatif yang membungkus inti atom semakin pekat semakin padat dan
semakin pejal, seperti itulah layaknya nurani ini mengenalmu. Aku
mengingat mu, apa kau mengingatku?
Hola Hoop
Permainan terakhir yang membuat tertawa, Untuk pertama kali nya
permainan yang menyenangkan setelah 9 permainan terlewati. Padahal ini
pos terakhir, Berarti di antara sekian pemainan hanya satu yang menarik
bagi ku. Terlebih lagi saat sudah kembali ke area ospek. Panggung
inagurasi yang telah berdiri di depan hall kampus membuat maba lega dan
siap menampilkan inagurasi masing masing. Acara yang berlangsung
menyenangkan, membuat hari terakhir ospek mengesankan. Namun tak sekejap
pun aku melihat Kau…
25 September
Seminar nasional. Pukul 8 kurang 15 menit, aku tergesa gesa menyiapkan
segala keperluanku sambil bergerak secepat mungkin dan melaju kendaraan
dengan kecepatan kencang.
Aku berhenti di depan mall kota lalu melihat kanan kiri. Astaga aku
tidak tau dimana seminar diadakan. Nama gedung yang masih asing di
telingaku. Ponsel, Ya ponsel yang ku harap memberi info dan menolongku
saat saat kritis ini. Moza teman yang pertama ku kenal saat di kampus,
Dia membalas pesan singkat ku dan menunjukkan arah jalan menuju gedung.
Beberapa saat kemudian aku tiba di gedung. Moza masih setia menungguku di pintu masuk
“Cepat Ra, Seluruh dosen udah masuk”
Teriakan Moza yang membuat kaki ku gontai melangkah.
Lift menuju lantai 2
Aku dan Moza masuk dan ya Allah… Ia di depanku. Ia menatapku lalu
tersenyum, Begitu sederhananya. Oksigen di dalam lift yang tiba tiba
sejuk. Degup jantung yang mendadak lebih cepat. Segalanya terasa diputar
dalam sebuah orkestra berisi nada dan iringan musik yang mendamaikan.
Alunan di dalam lubuk ini yang bertuliskan puisi puisi indah.
Lift menuju lantai 2 sampai
Moza menyeretku agar berjalan lebih cepat. Kami jalan beriringan, Tanpa
memedulikan samping kanan dan kiriku aku tak usai menatap nya dari
belakang. Mengisi Absensi mahasiswa dan ia di sampingku ia menatapku
kembali. Aku mencoba biasa dan hanya melihat dari bola mata yang tetap
memandang buku absensi.
Ini kah sekelumit prolog dari cerita panjang? Yang menandai segala
peristiwa sekilas saja? Namun makin ku tukas makin menjadi. Makin ku
lupa makin teringat jelas.
Sebuah arloji yang tak bisa ku protes untuk berhenti. Rasa ini tak
lagi benih, ia mulai tumbuh akar. Akar yang mulai menjalar ke permukaan
tanah tempat ia berkembang. Yang mulai mencari unsur unsur hara untuk
tumbuh. Meski ia tak pernah kusiram, Akar itu makin panjang dan makin
kuat. aku bahkan ingin memangangnya di tengah mentari agar tak lagi
hidup. Kau tau kenapa? Agar jiwa ini tak beradu di tengah pengharapan
selain harapan harapan kepada-Nya. Agar rasa ini tak memberi kesempatan
sedikitpun untuk dilukai. Namun rasa kagum pada mu yang mulai menjumput
sendi sendi hati ku. Menorehkan sedikit sela di antara rimbun nya
seluruh prasangka. Menopang seluruh rongga yang lama mencerca.
Angin malam lirih menyapa. Suara hati dingin mendera. Lupakan. Kata
yang ku tulis besar besar di separuh otakku. Cukup seperti ini saja,
cukup melihat air di tempatku berdiri tanpa harus mencari teratai untuk
menutupi permukaan yang hampir menguap. Mengapa pula memilih lari saat
ombak di dasar laut menyapu segala yang ingin dienyahkan. Tanpa
mengambil secuil pun dari sebait kisah ini, Saat yang tepat memaknai
perjalanan hidup ku yang teramat panjang.
3 tahun berisi kesibukan dan tak ada sedikit pun ruang untuk mencari
mu. Bahkan untuk mengingat mu pun kadang aku tak ingin. Aku baru
bergelar Ahli Madya, dan harus ku teruskan pendidikan ku. Akhirnya mulai
saat itu juga ku tinggalkan kota dengan banyak kenangan manis dan
pelajaran hidup itu. Mulai perlahan menutup kampus dengan banyak
pengharapan dan merangkak menuju hari ku yang baru. Selamat tinggal
kenangan indah, Semoga suatu saat aku kan mnemukan mu kembali…
2 tahun ku cicipi hawa perjalanan menuju Magister.
Saat banyak kebisingan yang menghalangi tiap ruas ruas jalan, Tiba saat
nya Hari membahagiakan itu. Aku bergelar Magister dan dinobatkan sebagai
mahasiswi coumlaude. Beberapa minggu kemudian aku bekerja di salah satu
perusahaan obat di Kota ini.
—
“makan siang yuk Ra” Ajak Kenny kerabat kerja di tempat ku bekerja.
Terik mentari yang membakar titik titik kecil pada tiap orang yang
berjalan. Mengepulnya asap asap kota yang membumbung dan berisiknya deru
kendaraan yang lewat menemani makan siang kali ini. Meski aku berada di
dalam ruangan, tetapi aktivitas kota terlihat jelas melalui kaca
pembatas di lantai 2 ini. Apalagi posisi tempat makan ku dan kenny yang
tepat di pojok dan bebas melihat segala pemandangan di bawah.
“Bentar Ra, biar aku pesen makanan dulu kamu tunggu disini ya”
Kata kenny dan hanya aku jawab dengan anggukan dan senyuman tipis.
Detik detik menunggu yang terasa berkali lipat lama dari waktu
biasanya. Dengan memandang ke jendela dan menyaksikan seluruh hiruk
pikuk yang seakan mencuat terus menerus. Tiba tiba terdengar suara yang
asing
“Apa kabar Zahra?” Sebuah suara yang pernah ku ingat. Yang seperti telah
ku putar selama bertahun tahun. Suara yang merdu ku dengar, Yang
mengingatkan ku pada seseorang. Kau…
Perlahan ku putar badan ku yang sedari tadi membelakangi kantin
kantorku, Mulai kulihat separuh badanya yang berpostur tinggi dan
perlahan ku dongakkan kepala ku untuk melihat Kau…
Ya Allah benarkah ini dia? yang namanya telah berjuta kali ku sebut
dalam sejarah panjangku. Yang kearifanya selalu tergaris indah di tiap
mimpiku? Yang segalanya membuatku tercengang di tiap momen momen kecil
dulu?
“Ba.. Baik. Iqbal?” terbata bata ku menjawab dan tanpa sengaja menyebut nama itu..
“hmm iya aku Iqbal kakak tingkatmu saat kuliah di kota mu dulu” jawabnya dengan sedikit nada tertawa
Perkenalan dan nostalgia yang menyenangkan. Komunikasi yang terjalin antara aku dan Kau yang berlangsung sampai berbulan bulan.
Dan suatu saat di sebuah tempat makan yang biasa kami kunjungi saat
lembur kerja. Saat malam yang berbintang indah dengan rembulan anggun
dan semilir angin yang membuat sejuk atmosfer malam ini. Saat lampion
lampion kota terbias cantik melengkapi pusat pusat perbelanjaan itu.
Saat kedua telingaku tak pernah menyangka mendengar kata kata mu. Meski
kau tau mata yang tak pernah berdusta bahwa aku merindukanmu. Pengakuan
yang membuatku terhenyak.
“Ra, Kau tau? Saat masa masa ospek dulu Kenapa kau dihukum mencari
nama ku? Karena aku lah orang yang pertama kali mengagumi mu. Aku
meminta agar kau mencariku lewat orang lain. Taukah kau? Saat senior
pendampingmu adalah aku? Akulah yang meminta menjadi pendampingmu lewat
orang lain. Dan taukah kau? Saat malam inagurasi yang menyenangkan
justru aku tidak ada di kumpulan senior yang lain? Karena aku berada di
salah satu sudut panggung dan memotret setiap gelak tawa dan senyum
manis mu di malam itu, Karena aku tak ingin kehilangan peristiwa
terakhir kita bertemu saat itu. Dan kau perlu tau bahwa lukisan lukisan
mu selalu ku lihat saat malam dan aku mengingatmu hingga kini. Aku lah
yang berperan di balik layar yang membuat sketsa semuanya”
Jantungku serasa di balut keras yang menghentikan tiap denyut nadi
ku. Ini mengejutkan ku. Aliran darah yang sedari tadi normal justru
terhenti saat mendengar kata kata yang tak pernah ku duga. Sendi dan
seluruh otot yang bagaikan berhenti beraktivitas. Mulut yang seperti di
lem lekat lekat hingga tak dapat mengeluarkan suara satu huruf pun. Saat
desah nafas yang tersendat sendat. Pengakuan itu, Pengakuan Kau…
Saat akan kuberanikan diri untuk berbicara. Kau mengatakannya… “Ra,
Maukah kau jadi pendamping ku sepanjang hidup? Maukah kau menemani
hingga hari tua ku nanti?”
Lidah yang hendak berbicara itu kini serasa kelu. Mata yang
tercengang kini makin menyempit dan bersiap mengeluarkan sedikit tetes
air yang tak bisa lagi ku tahan. Hati yang baru saja bahagia mendengar
pengakuan mu kini serasa mengeluarkan beribu ribu wangi yang
mengindahkan setiap insan. Berjuta bintang malam ini seperti berbicara,
Bulan itu kini jadi saksi. Angin sejuk malam ini membuatku tak bisa lagi
membendung air mata haru ku ini. Dan lampion lampion kecil itu menjadi
penghias awal mula perjalanan sampai hari tua Kita.
Masih asing memang, namun jiwa mu seperti telah hadir lama. Entah itu
di mimpiku ataukah khayalan samar samar ku yang terlalu kupaksa jelas.
Sosok yang teramat arif, senyum yang meneduhkan. Hanya sesederhana itu,
Kau.
Kau seperti telah hadir lama dalam hidupku, Kau pendampingku
Cerpen Karangan: Novi Tri Utami
Awalnya kita teman sepermainan. Selalu merangkai impian masa depan.
Matanya sipit senyumnya manis dia jago inggris! Sementara aku… jago
matematika! itu pun kata nya. Sepuluh tahun lengkap rasanya sekian lama
aku bersama dia. Aku tahu kesehariaannya. Dia suka futsal. Dia suka
menggombal. Dia suka menghayal. Bahkan aku tau cerita cinta nya. Namanya
mikha.
Hobi kami melihat bintang setiap malam sambil merangkul banyak
impian. Rangkulan itu sudah terbiasa sejak kita bersama dan sekarang
kita sudah SMA. Sial! aku semakin nyaman dengan rangkulannya sangat
nyaman walaupun kita hanya sebatas teman. Sampai saat ini aku tak pernah
mengerti penyebab kenyamanan ini? Mustahil ini cinta.
Jadi… selama ini aku salah menafsirkan cinta. Yang ku tau cinta
berawal dari suka tapi di sisi lain dia juga membuat ku terlena. Dia
selalu hadir di fikiranku. Dia selalu penyebab senyumku. Apa aku boleh
cinta mikha? Pertanyaan klasik yang membuatku ter-usik. Aku mencoba
memendam pertanyaan-pertanyaan itu entahlah… mengapa cerita cintaku
begitu liku. Ternyata cinta lebih gila daripada matematika!
Aku heran ternyata Tuhan menciptakan wanita penuh kekuatan. Kuat!
se-kuat batu karang yang terhempas terjangan ombak, tetap kuat walau
terhempas. Tetap tegar walau dia tak mau mendengar. Tetap cinta walau
menimbulkan luka. Tetap bertahan walau menyakitkan. Karena dia aku sudah
terbiasa dengan air mata. Terserah apa kata mikha, aku rasa ini
perjuangan cinta untuknya.
Apakah sahabat selalu berakhir dengan cinta? Masih tanda tanya untuk
mikha. Sudahlah aku terlalu memendam terlalu lama. Kenyataan pahit!
tetap saja mikha menganggapku sahabat. Aku berusaha tertawa bahagia saat
mikha menceritakan tentang wanita pilihannya. Andai hati bisa bicara
mungkin dia tak akan sanggup untuk berkata-kata terlalu banyak
mencurahkan air mata.
Aku kesal ketampanannya meningkat saat dia bermain futsal. Diam-diam
aku selalu memotretnya. Memasangnya di dinding-dinding kamar. Melihat
fotonya saja aku bahagia apalagi memiliki nya?
Setiap sore jika aku merindukannya aku membuka album ini, terpampang
banyak foto mikha. Foto saat dia bermain futsal dan foto saat kita
bersama. Album ini membuat aku tertawa sendiri. Cinta memang membuatku
gila!
Akhirnya tanggal dua datang juga. Tak sabar aku mengenakan gaun ini
di hadapannya. Sambil membawa mawar putih lambang persahabatan cinta.
Dan album ini yang telah lama aku kumpulkan berisi semua tentangnya.
Tanggal dua aku memang fix untuk menyatakan cinta untuknya. Biarkanlah
akan ku jadikannya indah untuk tanggal dua.
Sialnya hujan tiba saat aku ingin menyatakan cinta. Aku berteduh di
bawah pohon depan rumahnya. Tangan kanan ku mengepal mawar putih. Tangan
kiri ku memeluk album ini. Lagi-lagi hujan tak mau berhenti hingga
mataku tertuju oleh pintu mikha yang terbuka dan ternyata di dalam ada
wanita selain aku. Begitu mesra mikha merangkul wanita itu dan
sepengetahuanku dia tak akan merangkul wanita selain aku. Wanita itu
clara sahabat terbaikku di kelas.
Badanku lemas aku mengharap-harap cemas. Aku berbalik badan dan
membuang semua yang ada di tanganku. Aku berlari tak henti. Aku tak mau
melihat mikha lagi. Jika aku tau dari awal cintaku bertepuk sebelah
tangan. Kenapa masih berharap berlebihan? Seharusnya aku harus pintar
untuk melupakan!
Cerpen Karangan: Risma Dwi Meidita
“wooy…” suara Cintya megagetkanku. “apaan sih, ganggu aja” jawab ku
dengan cuek. “gue bawa berita baru, loe pasti kaget dengernya” kata
Cintya. “kabar apaan?” balasku. “Mikha sama Dinda jadian loooh”. “ooh”
jawabku. “gak asiik loe”. Cintya pergi dengan muka kesal.
Aku berpura-pura tak perduli dengan kabar yang dibawa Cintya, namun
hati ini tak bisa berbohong, hati ini sangat sakit mendengarnya. tanpa
terasa air mata menetes melewati pipi dan jatuh ke bumi. Aku mencinta
Mikha, aku amat sangat menyayanginya dengan tulus, namun aku hanya dapat
menyimpannya dalam hati, tanpa ada seorang pun yang tahu kecuali aku.
Aku dan Mikha adalah sahabat. kami selalu bersama bagai bintang dan
rembulan, karena kedekatan ini aku mulai menyadari bahwa aku
mencintainya, namun kedekatan ini hanya sebagai sahabat di mata Mikha.
akhir-akhir ini Mikha menjauhiku, dia tak pernah berbicara lagi dengan
ku, dia tak tersenyum ketika kita bertemu, dia sangat cuek seperti
seseorang yang tak saling mengenal.
Beberapa hari ini aku sering melamun, aku tak konsen di kelas, bahkan
aku sering menangis tanpa sebab yang jelas, aku terlihat sangat lemah.
mungkin ini rasanya patah hati karena cinta.
Ketika ku berjalan di lorong sekolah, ku melihat Mikha dan Dinda,
mereka sangat dekat, mereka sangat akrab bahkan mereka bercanda gurau
dan saling menggandeng tangan. mereka terlihat seperti pasangan yang
bahagia.
Aku tak ingin berada di tengah-tengah mereka.. ya tuhan ampuni aku
yang telah bersedih melihat sahabat ku bahagia, tuhan ku hanya ingin
melihatnya tersenyum, melihatnya bahagia walau tak bersama ku, biar saja
tuhan aku yang bersedih, biar saja aku yang merasakan paatah haati.
Akan ku simpan rasa cinta dan sayang ini di dalam hati yang sangat
dalam, tanpa ada seorang pun yang dapat melihatnya bahkan mengetahuiya,
dan aku percaya bahwa “CINTA TAK HARUS SALING MEMILIKI”
Cerpen Karangan: Amalia Tussyahada
Cinta bertepuk sebelah tangan? Huft, menyebalkan!!
“Ren, Rena!” Dengan gerakan refleks gadis bernama Rena itu menoleh ke
arah datangnya suara yang memanggil namanya, dan lagi-lagi pria itu,
pria yang sudah 1 bulan ini mengisi pikiran dan hatinya, pria yang ia
sukai namun tak mampu untuk diungkapkan, Rizky.
“Rizky? Ada apa?” Pria itu terlihat sibuk mengatur nafasnya yang
terengah-engah, karena pria itu baru saja berlari mencari Rena di
seluruh penjuru sekolah.
“Kau akan pulang?” Rena hanya mengangguk mengiyakan, terlihat sekali
ekspresi kebingungan dari air mukanya. Rizky mulai bisa mengatur
nafasnya lalu menarik senyum tipis “apa kau terburu-buru untuk pulang?
Rencananya anak-anak akan berkumpul di rumah Beby, apakah kau bisa
ikut?” Kini raut wajahnya mengekspresikan bahwa ia benar-benar ingin
Rena untuk ikut bersamanya.
“Baiklah aku akan ikut” terpancar jelas bahwa pria itu senang jika Rena ikut bersamanya.
Rena’s view
Oh god kenapa harus begini? Kenapa hatiku selalu menjadi tak karuan saat
harus berhadapan dengan pria ini? Aku mencoba mengatur intonasi suaraku
agar tidak terdengar bahwa aku merasakan sesuatu yang berbeda
dengannya, seperti sebuah tarikan yang memaksaku untuk merasa suatu hal
yang ada di dalam hatiku.
Kini aku berada di belakangnya, menaiki sepedah motor kesayangannya
menuju rumah sahabat kami Beby, ya kami. Aku, Rizky, Beby, Rania,
Alisia, Aldrian, Reza, Raisa, Kevin dan Yoga.
Kami hanya membisu di atas motor, tak ada sepatah kata pun yang kami
keluarkan. Dari tadi aku hanya memperhatikan Rizky dari belakang,
menyimpan rasa kagum padanya, tidak berani mengeluarkan kata-kata
apapun. God, aku menyayanginya, aku menginkan pria itu sangat. Terlintas
di pikiranku tanpa sadar, teringat senyumannya yang sangat mempesona,
keramahannya, ketampanannya, ketawanya yang khas dan tak akan terlupakan
oleh siapapun, dan perhatiannya padaku yang membuat aku semakin jatuh
hati padanya.
“Rena, kita sudah sampai” suaranya membuyarkan lamunanku tentang dia,
mambuatku terlonjak kaget dan sedikit salah tingkah, lalu dengan cepat
aku turun dari motor membuatku hampir saja terjatuh dan kakiku terkilir.
“Rena kau tidak apa-apa?” Aku menggeleng sambil terus memegangi kakiku
yang terkelir, meringis kesakitan, lalu dengan cepat ia berjongkok
melihat keadaan kakiku “kau bilang tidak apa-apa? Kakimu terkilir Rena”
“Sudahlah aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit”
“Kau pasti berbohong kan?” Aku hanya menggeleng, menutupi rasa sakitku
agar pria itu tidak khawatir padaku. “Aku tau kau berbohong, kau pasti
tidak ingin aku khawatir, Sudahlah jangan sungkan padaku, aku ini
sahabatmu kan?”
“Tapi kan” dengan cepat Rizky menarikku dalam pelukannya memopohku untuk
masuk ke dalam rumah. Sial! Makiku dalam hati mengutuk diriku yang
begitu ceroboh hingga melukai kakiku sendiri, dan mengutuk diriku karena
tidak bisa mengatur deru jantungku.
“Rena, kau tidak apa-apa?” Suara Raisa menyambutku dan Rizky ketika
kami baru membuka pinti, aku hanya menggeleng, dan duduk di kursi
sebelah Yoga dengan masih di bantu oleh Rizky.
“Kakinya terkilir. by, apa ada orang yang bisa menyembuhkan kaki Rena?” Ucap Rizky pada Beby.
“Hmmm, pembantu ku bisa” aku langsung menoleh ke arah Beby, tidak! aku tidak mau di pijat itu pasti sangat sakit, tidak! Tidak!.
“Tidak! Aku tidak mau di pijat itu pasti sakit, tidak mau!” Seperti anak
keci aku merengek tak karuan, lalu aku melihat dengan jelas Rizky
mendekatiku berjongkok dan membisikkan sesuatu yang membuatku sedikit
tenang.
“Hey! Aku ada di sini, aku akan menjagamu, jangan khawatir” bisiknya padaku.
“Kau bisa memastikan bahwa aku akan baik-baik saja?”
“Tenang, aku akan di sampingmu, aku akan menggenggam tanganmu agar semua tidak akan terasa sakit”
“Sungguh? Terimakasih” dia hanya mengangguk dan menarik senyum kecil, membuatku sedikit tenang.
Author’s view
“Aaaarrrgh” jeritan seorang gadis terdengar sangat keras sekali, begitu memekikan telinga.
“Sudah tahan sedikit, lama-lama juga tak akan terasa sakit” Yoga ikut berteriak mencoba mengalahkan suara jeritan Rena.
“Iya, nanti juga akan terasa enak, jika sudah hilang rasa sakitnya” aldryan tak kalah teriak.
“Nah sudah selesai nona, bagaimana? Coba digerakkan” Rena mencoba
menggerakkan kakinya yang terkilir. Kakinya baru saja dipijat.
“Sudah tidak sakit, terimakasih”
“Baiklah kalau begitu saya mau pamit untuk kembali bekerja, permisi”
“Bagaimana? Sudah tidak sakit?” Tanya Rizky yang sedari tadi berada di samping Rena, memegang tangannya erat.
“Tidak sudah terasa enak” seketika Rena melihat bekas cakaran pada tangan Rizky. “Rizky, tanganmu! Aku benar-benar minta maaf”
“Aku tidak apa-apa, yang penting bagiku kau segera sembuh”
“Benarkah itu? Terimakasih” gadis itu menyunggingkan senyum kecil dan manis.
“Hey ada apa ini mengapa terdengar ribut sekali?” Kevin yang baru
saja datang membeli makanan bersama alisia langsung menghempaskan
tubuhnya di sebelah Raisa.
“Ada yang baru saja kakinya di pijat karena terkilir” sahut Reza, matanya melirik kecil pada Rena.
“Kau sih ceroboh” Alisia menoyor kepala Rena. Sedangkan Rena hanya memajukan bibirnya kesal.
Rena’s view
“Apakah cinta memang tidak harus memiliki? Apakah benar bahwa aku yang
bodoh? Bodoh karena hanya melihat pada satu arah, pada cinta yang tak
akan pernah bisa untuk ku gapai.
Ini sangat tidak adil! Mengapa hanya aku yang memperjuangkan cinta ini?
Mengapa hanya aku yang harus menanggung luka disaat aku harus melihatmu
bermesraan dengan wanita lain.
Dan mengapa kau selalu memberikan perhatian-perhatian lebih padaku
sementara itu yang selalu membuatku merasakan kembali sebuah rasa yang
tak akan pernah terbalas. ” Kini aku telah kembali menutup buku diaryku.
Menulis adalah salah satu cara agar aku bisa menumpahkan segala isi
hatiku, menulis sudah menjadi sebagian rutinitas harianku, dengan
menulis aku selalu merasa seluruh beban dalam hatiku telah pergi jauh
tenggelam dalam kata demi kata. ”
“Rena” aku melihat jelas bahwa Rizky berlari ke arahku penuh semangat, terlihat senyum lebar dari bibirnya.
“Rizky, ada apa?”
“Aku punya kabar gembira!”
“Oh ya apa?”
“Kemarin malam aku resmi berpacaran dengan Beby!” Cara bicaranya
terlihat penuh semangat dan memancarkan bahwa dia sangat bahagia.
Sedangkan kini hatiku hancur menjadi beberapa bagian, merasakan luka itu
semakin besar, semakin perih dan sakit.
“Oh ya? Selamat” god, bagaimana ini? Aku sudah tak tahan lagi hatiku
hancur, aku benci pada hidupku ini! “Mmm, Riz sorry gue harus pulang,
gue… gue buru-buru, bye” aku berlari sekencang mungkin menyetop taksi
lalu pergi meninggalkan Rizky sendiri, yang tampak bingung dengan
sikapku.
“Kriiiing”
“Rania? Ada apa?”
“Kau sudah tau bahwa Beby dan…”
“Aku sudah tau”
“Baguslah, kalau begitu nanti malam kau akan datang kan? Mereka akan mengadakan party di rumah Beby”
“Entahlah mungkin tidak” ya mungkin aku tidak usah datang jika aku tak ingin semakin terluka.
“Aku harus mengantar mom-ku ke acara pesta sahabatnya, sampaikan salamku pada mereka, maaf aku tak bisa datang”
“Sayang sekali, baiklah akan aku sampaikan, bye”
“Bye, have fun with you’r party”
“Okeey honey”
Baiklah ini keputusan yang bagus, aku akan terus berada di kamar ini!
Aku kembali mengambil diary, kembali menuliskan segala bentuk
perasaanku.
“Sekarang semuanya telah terjawab. Cinta memang tak harus memiliki,
cinta juga tak akan pernah bisa untuk dipaksakan semuanya harus mengalir
dengan apa adanya dari dalam hati. Sampai kapanpun aku tak akan pernah
bisa memiliki hatinya, dan sampai kapanpun aku akan selalu menjadi
sahabat terbaiknya, tak akan menjadi seseorang yang spesial dalam
hidupnya.
Ternyata memang hanya aku yang harus berjuang mempertahankan cinta
yang aku miliki, ternyata hanya aku yang harus merasakan luka ini.
Sekarang aku harus mulai terbiasa dengan melihat kamu bersamanya setiap
waktu.
Dan kini aku harus mulai merelakan kamu pergi bersamanya, karena aku tau
bahwa cinta ini hanya cinta semu yang bertepuk sebelah tangan”
End
Cerpen Karangan: Jihan Renata
Sahabatku Daffa ya aku sangat menyukainya. Aku selalu membantunya jika dia ada kesulitan. Saat itu dia sms aku.
From: Daffa
To: Saya (Lisa)
Lis aku akan berusaha menjadi yang lebih baik. Aku mau berubah menjadi anak yang lebih pintar.
From: Saya
To: Daffa
OMG! kamu gak mimpi kan? Ya Allah AMin ya Daffa semoga kamu bisa! Keep
Spirit Daffa. Tapi kamu harus inget Daffa perubahan itu tak semudah
membalikan telapak tangan.
From: Daffa
To: Saya (Lisa)
Oke Lis. Thank ya.
Esokkan harinya.
Saat lagi belajar matematika. “Lis ajarin sih” Tanya Sahabatku, “Iya
yang mana?” jawab saya, “Nomor 3″ jawab Daffa. “Gini loh kamu kuadratin
angka ini berapa, lalu kamu jumlahkan angka kuadratan ini…” dan bla bla
jawabku “Oh ya ya” jawab sahabatku, “Mudeng gak nih coba lagi soal ini
pasti gak bisa” tanyaku. “Issh males lah saya kalau gini” jawab
sahabatku sambil menggedor meja, “Eh kamu kanapa sih aneh? ya udah kalau
gak mau, oke fine gini cara kamu bales ke saya. Diajarin biar pinter
malah marah marah gak jelas” jawabku sambil marah. “Sorry ya Lis, Sorry
banget, rasanya aku hari ini ada yang aneh” Jawab Sahabatku sambil
memohon. Ya tentu saja sebagai sahabat aku pasti memaafkannya.
Di Rumah Aku berfikir sambil tidur tiduran “Hmm kenapa dia bertingkah
seperti itu tadi? Hmm apakah dia bukan yang terbaik buatku? Oh Tuhan
aku mohon lupakanlah semua perasaan sukaku kepada sahabatku sendiri.
Sambil mendengarkan lagu Geisha – Lumpuhkan Ingatanku
Lama kelamaan aku bisa juga melupakannya dengan cara aku melirik
orang lain ya tetap teman sekelasku tapi “Dia” beda dengan yang lain.
Dia murah senyum, Manis, Tampan, Alim, Pendiam dan pintar pula. Dia
bagaikan malaikat. “Oh Tuhan kenapa aku baru sadar? Kenapa aku dari dulu
mengejar “Dia” Batinku
Wajahnya yang manis kalau saja dia tersenyum.
Bel Pulang. AKu langsung mengambil HandPhonr yang ada di Tasku
Aku langsung sms sahabatku Daffa. Aku tanya tentang dia.
To: Daffa
Fa TTL “Dia” kapan sih?
From: Saya
Jojog 20 maret 2000
Kenapa suka ya sama “Dia” ya?
To: Daffa
Ha? hem dah hust diem jangan bilang siapa siapa loh.
From: Saya
Ya ya.
Keesokan hari nya. In School
Aku datang dengan wajah polosku dengan menundukkan kepala. Ya sahabatku
Daffa selalu meledekku walaupun si “Dia” tidak tau kalau aku suka
dengannya tetap saja aku sangat malu. Sahabatku selalu saja mengancamku
jika aku meledek daffa pasti sahabatku ini langsung ngomong “Rahasaimu
pasti aku bongkar” Kata sahabatku, “Ihh jangan dong padahal kan kamu
sudah janji tidak akan kasih tau siapa siapa” Jawabku “Ya” Jawab
sahabatku. Ya walaupun dia selalu menjawab iya tetap saja dia
mengancamku. Ya tentu saja aku sangat marah besar, kadang kali aku
memukuli sahabatku itu, sanyang dia tidak jera jera tetap saja dia
mengulangi sikapnya itu.
“Daffa jangan gitu dong plis, aku malu loh” Tanyaku dengan nada sebal,
“Gak dia gak akan tau” jawab dia dengan nada santai, “Iya iya tetap saja
kau mengulangi tingkah anehmu itu” jawabku, Sahabatku hanya tertawa
saja
“Lis, Aku jaluk seribu sih Lis?” Tanya Daffa, “Orak eneng” Jawabku,
“cethil kamu Lis,” Tegas sahabatku, “Opo toh cethil, ngomong pakai
bahasa Indonesia aja napa” Bingung hanya sedikit menguasai bahasa jawa,
“Mokene Ajar Bahasa Jowo, koyok ngono ojo orak ngerti” Jawab sahabatku
sambil mentertawaiku, “Wes lah sak karepmu dewe” Jawabku kesel.
Sahabatku Daffa hanya mentertawaiku, di sisi lain aku melihat si “Dia”
tertawa melihat aku dan sahabatku ngobrol. Batinku “Aku berhasil
membuatnya tersenyum” itu sangat membuatku bahagia.
Aku selalu mendangi dia saat dia tersenyum, dia manis banget kalau
tersenyum. Jika berbicara dengannya rasanya Oh Tuhan kau seperti
menurunkan malaikat ke dunia ini wajah alimnya, tampannya, manisnya
tidak tertahan, aku hanya bisa menahan dalam hatiku.
“Lis, ini apa sih jawabannya heheheeh” Tanya si “Dia” dengan senyum
manisnya, “Ah Cueelll, ini B” Jawabku dengan tertawa. “Sini mana lagi?”
Tanyaku, “Udahlah maksaih ya Lis?” Jawab si “Dia”, “Oke ya wes,”
Saat itu istirahat. Aku mau ke Mushola dengan teman temanku untuk
menunaikan ibadah sholat dhuha. Ya si “Dia” juga pasti ke mushola aku
melihatnya berdoa hingga menangis, aku hanya melihatnya rasanya aku pun
juga ikut sedih. Batinku “Ya Allah kau menurunkan malaikat yang nyata ke
dunia”
Dia selalu membuatku salah tingkah di depannya, aku hanya bisa
tersenyum malu jika menatap wajahnya. Kadang aku selalu keGE’ERan jika
dia senyum kepadaku, batinku “Apakah dia menyuakaiku?”. Aku tetap selalu
tersenyum di hadapannya.
Aku selalu mencoba mendekat, tapi cara ini rasanya aneh. Hehehe
Hmm aku harap dia tak pernah tau bahwa aku menyukainya. Amin
Biarkan waktu yang menjawabnya.
Kebahagiaanku di sekolah hanya dengan melihat wajahnya tersenyum
memandangku itu sudah cukup, sudah cukup membuatku sangat bahagia
Aku akan selalu menyayanginya, Aku akan selalu ada jika dia meminta bantuanku.
Aku akan selalu memendam rasa ini dalam hatiku.
Aku akan selalu berusaha membuatnya tersenyum.
Aku akan selalu berudaha membuatnya melihat aku.
Aku hanya meminta kepada Tuhan jagalah “Dia”, Sayangi “Dia”
Maybe aku akan selalu menunggunya sampai dia membukakan pintu hatinya buatku.
The End
Cerpen Karangan: Mawar Indah Pertiwi
Aku selalu memandangnya, tapi ia tidak menyadari kalau ada yang sedang memperhatikannya. Sepertinya aku mulai menyukainya, namun aku tak berani untuk mengungkapkan kepadanya. Suatu hari dia bertanya kepada ku “itu apaan de?” aku pun menjawab “oh, ini kertas..”
Ia pun bertanya lagi “buat apaan?” karena aku polos dan juga deg-degan aku asal jawab saja “ini buat gambar.” jawabku yang singkat.
Suatu kali dia pernah bertanya juga dan menatap mataku, di situ hati ini langsung dag dig dug derrr… Aku ingin sekali berbicara dengannya dan mengungkapkan isi hatiku, tapi aku tak punya keberanian untuk melakukan itu. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Dia sudah mempunyai seorang kekasih, kekasih cantik dan juga pintar. Aku jadi minder. Marena dia sudah punya pacar, semakin saja aku memendam perasaan ini.
Akankah dia akan tahu tentang perasaan ku ini? huh… entahlah mungkin aku hanya melihat dia dari kejauhan saja. Mungkin suatu saat takdir yang akan memberitahu kepadanya.
Cerpen Karangan: Nayna M Novia
Aku mengenalnya sejak aku mengikuti salah satu ekskul di sekolah ku
-Pramuka-. Aku jatuh cinta padanya saat usia ku 13 tahun, aku hanya
mengaguminya dari kejauhan. Aku hanya mampu melihat senyumnya dari
kejauhan. Laki-laki yang ku suka terlihat tampan dengan gaya khasnya,
aku suka itu. Matanya sangat indah, aku suka dia.
Rasa ini semakin hari semakin dalam, Setiap hari yang aku ingin hanya
memandang wajahnya. suatu hari aku melihat tatapan matanya, tatapan
mata yang sejuk. Yang mampu membuat jantung ini berdegup lebih cepat,
dan akhirnya aku mulai bisa dekat dengannya karena teman ku -Nina-. Aku
bahagia berkatnya, terima kasih teman.
Bulan desember ini aku sedang disibukkan dengan UAS, pelantikan
Pramuka, dan Mempersiapkan Visi dan Misi untuk mengikuti calon Pratama
Baru. Akhir-akhir ini setelah UAS aku jarang bertemu dengannya,
sepertinya dia sibuk mengurusi Class Meeting -dia Osis-.
“Afra, ada Bisma tuh” teman ku -Nina- menyenggol lengan ku
“Ya” Aku memandanginya sambil terus melangkah
“BISMA!” teriak Nina sambil melambai-lambaikan tangannya
“Nina, jangan udik deh” Protes ku memegangi kedua tangannya agar berhenti melambai-lambai
“Woy, BISMA!”
Bisma menoleh ke arah Aku dan Nina.
Aku tersenyum malu sedangkan Nina hanya nyengir menunjuk-nunjuk Aku.
Dia tersenyum lalu melambai-lambaikan tangannya.
“Afra, sini minuman kamu” Nina merampas sebotol aqua yang berisi air mineral dari tangan ku
“Buat apa coba? Kamu juga beli kan?” Aku ingin merampas minuman ku namun Nina sudah berlari
“Buat Bisma” Teriaknya berlari menghampiri Bisma
“Nina kau ini!” Aku melihat Nina mengucapkan sesuatu ke Bisma lalu berlari menghampiri ku
“Nina kau…”
“Afra makasih ya atas ini” Bisma teriak sambil menunjuk-nunjukan botol minuman ku
“Iya” Aku tersenyum
“Hayu ah ke Sanggar Pramuka” Nina menarik-narik tangan ku
“Iya-iya”
Malam ini, kota Bekasi terasa kelam, yang biasanya indah kini gelap
tak berbintang. Aku terpaku dalam kesendirian menatapi layar hape ku.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Tiba-tiba hape ku bergetar bertanda ada sms masuk. Ku lihat layar hape ku, BISMA!
From: Bisma
Jelek, Makasih aquanya tadi.
To: Bisma
Jelek? Hey, kamu yang jelek
SEND
Dasar Bisma sekate-kate dia mengatai ku
Drrt.. Drrt.. Drrt..
From: Bisma
Haha, ya-ya aku minta maaf
To: Bisma
Iya aku maafin, mumpung Afra nan kece membahana halilintar specta cetar-cetar ini sedang baik hati
SEND
Huh, bisma mimpi aku semalam
Drrt.. Drrt.. Drrt..
From: Bisma
Afra, semoga aja kamu jadi pratama putrinya yah. Bangkitkan nama
Paskapan, mungkin jika aku jadi pratama putra aku akan mengundurkan
diri.
Loh, kenapa dengan bisma?
To: Bisma
Iya, aku janji, loh, kok mengundurkan diri sih?
SEND
Drrt.. Drrt.. Drrt..
From: Bisma
Kelas 3 nanti aku akan pindah ke padang. Jangan kangen yah
Apa? Dia mau pindah? Oh tuhan.
To: Bisma
Apah? Iya-iya. jangan lupakan aku
SEND
Dia akan Pergi ke padang.
Kini, hanya ada aku dan kenangan itu..
Aku hanya mampu mengingatnya, mengingat semua senyumnya dan tatapan indah itu.
Aku berjalan gontai sambil meneteskan air mata, air mata kehilangan.
Dia, takkan pernah tau betapa sakitnya aku saat itu, saat dia pergi dariku.
Aku tak mampu berkata apapun, aku hanya menangis dalam diam, menyesali semuanya..
Aku mencoba tegar, aku mencoba terus untuk menutup luka ini, luka yang kau beri.
Aku mencoba bahagia dengan apa yang aku miliki saat itu..
Aku mencoba bertahan dengan senyumanku.
Ya tuhan, jaga dia selama dia jauh dari sisiku.
Aku yang selalu mengharapkan dirimu
Aku takkan lelah bila harus menunggu
Aku yang memujamu dan kan selalu ada
Kini aku ungkapkan perasaan cintaku
Padamu…
Kasihku…
Kekasih telah pergi
Tinggalkan diriku
Sebelum ku sempat…
Ungkapkan rasa cinta
Yang lama terpendam
T-A-M-A-T
Cerpen Karangan: Rarasati Deriani
Hari itu, hari pertama ku di SMP. Aku sangat senang karena aku
sekarang sudah SMP, teman baru, kehidupan baru, bahkan cinta pertama..
seseorang yang aku sangat cintai.. dia adalah sahabat baruku, Candra.
“intro?” ak mengirimkan chat ke dia.
“zzz, intro intro orang gue anak kelas sebelah, ngapain intro intro lagi” balas dari chat nya
“heh! orang gue chatnya baik baik! lah elu malah balasnya kasar kasar!” aku pun membalas dengan kasar.
“zzz emang gue betul!” dia pun balas dengan kasar
waktu itu, aku dengan dia chat terus menerus sampai malam. Kami
berkelahi terus, tapi lama lama kami malah mejadi dekat karena chat
tersebut. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.00, aku pun pergi tidur.
Paginya saat di sekolah, aku berjalan menuju ke arah kelas, sewaktu
aku sedang berjalan tiba tiba saja ia datang dan memanggilku.
“hoi cewek SKSD! Hahaha” dia berteriak memanggilku sambil tertawa
“heh! ngak usah banyak bacot deh elu!” aku membalasnya dengan nada kesal, tetapi itu hanya sebuah candaan.
Lalu kami pun mengobrol, entah kenapa tapi aku merasa cocok dengannya
karena dia selalu baik padaku. Hal itu adalah pertemuan yang indah
bagiku.
Hari demi hari terus berlanjut, kami adalah sahabat sejak saat itu.
Kami selalu bersama, bercanda bersama bahkan sering kali aku curhat ke
dia jika aku sedang sedih, dan dia juga selalu curhat kepadaku sewaktu
dia sedang sedih. Tapi lama kelamaan aku menyadari satu hal, yaitu
ternyata aku menyukainya.
aku menyukai candaan nya, senyuman nya, kesetiaannya dan
keseriusannya itu. Sejak itu aku sangat merasa bahagia karena bisa
berada dekat dengan orang yang kucintai.
Sampai suatu hari, sewaktu aku sedang membersihkan taman, tiba tiba
saja hidungku berdarah dan tanpa sebab kepalaku menjadi sangat sakit
sampai membuatku menjadi pingsan. Disaat aku terbangun ternyata aku
sudah ada di sebuah ruangan. Dan ternyata aku ada di rumah sakit. Di
sampingku ada mama dan papa, mereka terlihat sangat khawatir, mereka
bertanya kepadaku bagaimana keadaanku, sewaktu papa bertanya tiba tiba
dokter masuk dan mnghampiri kami, dan dokter mengatakan kepada
orangtuaku bahwa aku mengidap penyakit kanker. Aku sangat shock saat
mendengar hal tersebut. Dokter berkata aku bisa mengikuti terapi, hanya
itu satu satunya jalan agar bisa mengurangi rasa sakitku, akan tetapi
dokter berkata hidupku tidak panjang lagi. Mendengar hal itu mama pun
langsung menangis dan berulang ulang bertanya kepada dokter apakah tidak
ada cara lain untuk menyembuhkanku, dan dokter berkata tidak ada cara
lain. Aku hanya bisa menangis.. dan menyembunyikan hal ini.
Hari demi hari sudah, tapi teman teman ku sama sekali tidak ada yang
tau jika aku terkena tumor otak, termasuk sahabat tercinta ku, Candra.
aku tidak ingin dia sedih, aku hanya ingin melihat dia tersenyum selalu.
Hanya itu yang aku inginkan. Tidak lebih dari itu.
“Rena… gue pingin cerita ni” tiba-tiba memulai pembicaraan.
“cerita apa Can? cerita aja mah, gue pasti dengerin kok” jawab aku dengan penasaran.
“elu tau Kezia dari kelas H kan?” wajahnya tiba tiba memerah. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi.
“tau donk! Elu suka sama dia? ciee, boleh juga tuh! cantik lagi
anaknya!” yah aku berkata seperti itu, jujur aku ingin menangis
sebenarnya.
“haha! Mulai sekarang elu bantuin gue ya!”
aku hanya bisa berpura pura senang, yang sebenarnya aku merasa sangat tersakiti, Tapi itu demi kebahagiaannya, aku rela..
Jujur aku sangat sedih, aku tau jika dia sudah bersama wanita yang
dia cintai, pasti ia akan meninggalkanku. Tapi itu semua demi
kebaikannya. Aku mencintainnya, aku hanya ingin melihat kebahagiaannya
di hidupku yang tidak lama lagi.
maaf aku harus berbohong kepada mu tentang penyakitku bahkan perasaanku! Itu semua demi kebaikanmu.. maafkan aku..
“mama! tolong ma! to….”
“Rena!!, papa! cepat panggil ambulan pa! cepat Pa!”
hari itu, dimana hari penyakit ku sudah mulai ingin merenggut nyawa ku.
karena kejadian tersebut, aku pun haruh dirawat di rumah sakit.
Sudah 3 bulan berlalu, aku tidak datang ke sekolah dan tidak kemana
mana, aku hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhku sudah
kritis, bahkan aku sudah tidak mempunyai rambut lagi, semua rambut ku
rontok karena penyakit ku itu.
setiap harinya aku menangis karena aku sudah tau umurku yang tidak
lama lagi ditambah lagi aku selalu mengingat orang yang kusayangi,
Candra.
ingin sekali kukatakan kepada Candra bahwa aku mencintainya dari apapun,
tapi tidak bisa. Aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah dan sedih.
Maafkan aku Candra..
“Rena! bertahan sayang! tetap bertahan!, dokter! dokter!”
tiba tiba saja saat itu jantungku mulai tidak stabil, aku sudah kritis mungkin hari itu adalah hari yang mengakhiri semua nya..
“Can… ca-andra.. candra.. candra..” aku memanggil nama candra berulang-ulang kali.
untuk yang terakhir kalinya, aku ingin melihat senyuman Candra yang selalu membuatku bahagia. Hanya itu yang aku inginkan.
“Rena! Ren! buka mata lu Ren! gue mohon Ren!” tiba-tiba saja aku mendengar suara Candra, dan aku pun langsung membuka mata ku.
“Ca…an..dra..” aku pun menjawab dengan sangat lemah.
“elu kenapa gak bilang ke gue kalau selama ini elu kena kanker!? kenapa
elu bohong Ren! Kenapa Ren! elu itu sahabat gue! selama elu sakit, gue
itu harusanya selalu di samping elu Ren!” dia memarahi ku, tetapi dia
menangis.
“ma-aaf Can, Gu..e ga ma..u bi…kiin e..lu ka..watir.” aku menangis secara tiba-tiba.
“kenapa Ren!? Gue gak mau kehilangan elu! seharusnya di akhir akhir sisa hidup lu itu gue harus selalu ada!”
“Candra.. bagi gue lu itu orang ya..ng terpenting di hi..dup gu..e, gu..e sayang sama e..lu”
“Rena…” dia menangis, aku tidak tega melihatnya.. aku pun memegang wajahnya.
“di akhir hi..dup gue, hal ya..ng gu..e bu..tuhkan Cuma sa..tu”
“apa itu Ren! Beritahu gue! Gue bakal ngasi lu apa pun! APA PUN Ren!”
“gu..e gak mau ngeliat elu sedih, gu..e pingin ngeliat e..lu tersenyum
selalu, gue pingi..n” aku pun segera menghapus air matanya, dia melihat
ku dan dia pun tersenyum.
ia memegang tanganku dengan sangat erat, kehangatan tangannya membuat
seluruh tubuhku yang dingin, menjadi tidak terasa dingin lagi.. inilah
yang kuinginkan, melihat ia tersenyum.
dan disaat saat seperti itu, aku telah menghembuskan nafas terakhirku..
hanya itu, tak sempat aku memberitahukan kepadanya semua tentang
perasaanku, itu semua tidak bisa kukatakan.. aku mencintaimu Candra.
“Rena! tidakk! jangan ninggalin mama nak! Rena!!” *histeris*
“sudahlah ma.. Rena sudah pergi, kita harus merelakan kepergian Rena ma..” *menangis*
“RENAA!” *menangis sambil berteriak*
“Ren, kenapa elu harus pergi secepat ini Ren!? Kenapa?” *menangis*
“Candra.. om menemukan sebuah surat, dan ini untukmu, dari Rena” *menangis*
“dari Rena!”? *langsung membuka surat tersebut*
“Candra, kalau elu udah baca surat ini, berarti gue uda tiada.. gue
uda gak ada di sisi elu lagi, elu harus mengikhlaskan kepergian gua
Can.. jangan nangis terus Can, gue ingin ngelihat elu tersenyum terus.
dan gue mau bilang sesuatu ke elu..
gue sayang elu sebenarnya, gue cinta sama lu Can.. tapi gue gak berani
buat ngasi tau ke elu Can, gue takut elu bakalan ngejauhin gue Can! gue
takut! Gue takut elu gak akan pernah di hidup gue lagi Can, gue gak mau
persahabatan kita rusak karena perasaan gue ke elu.. elu itu bagaikan
cahaya yang selalu menerangi gue dalam kegelapan.. elu adalah harapan
hidup gue Can.. maafkan gue sebelumnya Can karena gue uda ngebohongin
elu tentang perasaan ini.. tolong jaga papa sama mama buat gue ya Can,
dan ingat tersenyum lah terus!
kalo gue uda ketemu sama yang maha kuasa, gue bakalan meminta kepada
sang maha kuasa buat ngejagain elu selalu.. dan gue bakal selalu ada di
hati elu Can!
aku mencintai mu Can, lebih dari apapun.. #Rena”
TAMAT
Cerpen Karangan: Dea Tanneysa
Nama gue aris, gue orang yang sedikit kuper, gue suka numpahin cerita
gue di laptop kesayangan gue tapi sayangnya gue terlalu takut untuk
ceritain semua curhatan gue dan ini pertama kalinya gue share ke kalian
semua tentang cerita gue. Gue mau curhat masalah kisah asmara gue yang
duuuiiileeeh galaunya.. hahahaa
Gue udah punya pacar tapi gue ngerasa kurang pas aja sama cewek gue.
Gue udah pacaran kurang lebih 3 tahun, selama ini gue pacaran kaya
orang-orang kebanyakan dan gue merasa jenuh karena gue ngerasa bosen
sama gaya pacaran gue sama pacar gue itu, sama sekali monoton. Apalagi
cewek gue itu super duper CEMBURUAN PARAH, makin gak semenggah gue
ngejalaninnya.
Di jumat malam sabtu gue biasa nongkrong sama kawan-kawan gue, dan
tongkrongan ini diisi sama kawan-kawan kampus gue lulusan salah satu
universitas di Jakarta dan gue nongkrong di salah satu cafe kopi deket
kampus, oh iya inget ya ini cafe bukan warkop.. hahaha.
Awalnya gak ada yang menarik di tongkrongan ini, malah bisa di bilang
garing tapi cerita itu berubah disaat temen gue ngenalin cewek yang
namanya “vira”. Vira itu anak yang Rock “N” Roll abis, dandanannya
serabutan gayanya seruntulan dan dia juga pecinta kopi dan rok*k,
pokoknya bukan cewek idaman gue banget deh.
Setiap jumat malem sabtu gue jadi terbiasa nongkrong sama mereka,
ngabisin waktu dan ngobrolin hal yang gak penting tapi gue enjoy banget
ngejalaninnya. gue fikir ini karena gue butuh refreshing sama
kawan-kawan gue..
Tadinya sih gue jarang ngobrol sama vira dan malah hampir gak pernah
ngobrol, awal gue ngobrol sama dia di saat gue nyalain playlist musik di
blackberry gue..
“lo suka bonjov ris?” si vira negor gue
“iya gue suka bonjov, lo suka juga?”
“iya gue juga suka, eh kalo aero smith lo suka gak?”
“wah apa lagi itu vir, gue demen banget, lo liat aja playlist gue pasti
isinya bonjov sama AS” (AS itu sebutan gue untuk Aero Smith)
Yang tadinya gue gak pernah ngobrol sama dia, eh jadi akrab karena
gue sama dia suka jenis musik yang sama, sebelum gue pulang, gue
beraniin minta pin si vira walaupun gue sedikit canggung karena gue kan
gak begitu deket sama dia, dan dia merespon positif permintaan gue itu..
Setelah gue udeh sampe rumah, gue beraniin untuk bbm dia,
“Vir udah sampe rumah?”
“Udah ris, gue baru aja nyampe, eh ris lo bisa main gitar?”
“Bisa vir, emang kenapa?, lo jago ya main gitarnya”
“boro-boro main gitar, nyanyi aja gue fals, HAHAHAA”
“kapan-kapan kita nyanyi bareng deh yuk di kedai”
“ayuuuk, kayanya bang gondrong punya gitar deh”
Dan sepanjang malam gue ngobrol sama vira sampe pagi.
Di sepanjang malam itu gue ngobrolin banyak hal, dari masalah
sehari-hari sampe masalah pribadi. Menurut gue dia orang yang lumayan
terbuka dalam hal pribadi, dia banyak cerita tentang perjalanan hidupnya
yang sebenernya gue gak patut untuk tau. Lama kelamaan gue makin akrab
dan Ternyata setelah gue fikir-fikir dia bukan tipe cewek yang nakal
malah gue bilang dia begitu karena temen di sekitarnya dan dandanan rock
“N” roll nya dia aja, tapi di dalemnya dia anak yang manis dan baik,
walaupun emang dia galak tapi dia asik banget buat ngobrol..
Setiap hari gue ngobrol sama dia di bbm, dan lama kelamaan dia terbiasa hadir di hidup gue..
Waktu itu bulan ramadhan, gue tipe cowok yang susah bangun untuk
saur, tapi setelah gue kenal vira, gue ngerasa punya alarm sendiri,
hahahaa.. Dia suka bangunin gue saur, bukan karena dia jago bangun saur
tapi karena dia gak pernah tidur malem, alias dia itu tukang begadang..
Jadi selama bulan puasa selalu dia yang bangunin gue saur.. hmmm
Selama bulan puasa gue sama temen-temen gue jarang nongkrong, dan gue
sama vira pun juga jarang ketemu, setelah bulan puasa berakhir
aktivitas nongkrong gue sama kawan-kawan gue pun dimulai lagi dan makin
rutin,
Awal pertama nongkrong, gue gak bisa dateng karena gue ada pertemuan
keluarga, kaya silahturohim atau halal bi halal gitu deh jadi gue gak
bisa dateng dan di minggu kedua si vira yang gak bisa dateng karena dia
pergi sama temen-temen rumahnya..
Nah…. pas dia gak dateng gue jadi ngerasa kehilangan, yang biasanya
nongkrong sama dia tapi sekarang gue gak ketemu sama dia, gue mulai
berfikir apa sebenernya gue suka sama dia tapi kan gue udah punya cewek
masa gue mau hianatin cinta pacar gue itu.. “Leeebaaay”
Dan akhirnya gue mutusin untuk bbm dia,
“dimana vir?”
“Rumah temen, lo nongkrong ya?”
“iya nih, sepi gak ada lo HAHAA”
“Lucu deh, kelitikin dong biar ketawa HAHAHA”
“ya udah lanjutin sana main sama temen lo”
“Oke bos :p”
Setiap hari gue bbm an, kadang gue juga suka jalan sama dia walaupun
Cuma muter-muter menteng aja, soalnya kan gue kerja di daerah sudirman,
hahahaa
Setiap nongkrong di cafe, gue suka jemput dia di ambasador.. dan
moment itu yang bikin gue seneng, soalnya gue bisa boncengan sama dia di
motor sambil nyari kesempatan buat bikin dia meluk gue, hahahaa..
Setelah sering jalan bareng dan ngobrol, benih-benih cinta mulai
tumbuh di hati gue. Gue suka dengan gayanya dia yang apa adanya yang
bikin gue jatuh hati, tapi gue gak mau kalau dia sampai tau apa yang gue
rasain ke dia..
Pernah gue mau coba untuk ungkapin tapi apa daya gue gak berani
ngungkapinnya, Ada beberapa pertimbangan yang bikin gue gak berani
ngungkapin perasaan gue ke dia..
1. Dia anak orang kaya
2. Banyak cowok yang suka sama dia
3. Dia tipe cewek yang susah di atur
4. Gue punya cewek..
Dan yang paling berat pertimbangannya adalah di point ke empat bro,
mungkin kalo gue gak punya pacar, gue bakalan nekat buat ngungkapin
perasaan gue ke dia. Padahal jujur gue suka sama dia tapi kenapa waktu
yang gak bisa bikin gue sama dia bersatu, mungkin ini cerita kaya di
sinetron atau di FTV tapi ini yang gue rasain..
di saat gue bener-bener suka sama seorang cewek tapi kenapa gue gak
bisa milikin cewek itu karena ada beberapa faktor dan perasaan gue ke
dia ngambang gitu aja, Gue gak pernah ungkapin perasaan gue dan gue pun
gak tau perasaan si vira ke gue kaya gimana.
Setelah lama gue simpen perasaan ini ke vira tiba-tiba ada berita
yang bikin gue kaget, ternyata vira jadian sama temen satu tongkrongan
gue, walaupun gue sedikit kecewa tapi ini resiko yang harus gue hadapin.
Gue terlalu lama gantungin perasaan gue ke dia sampe-sampe waktu gue
habis dan gak sempet untuk ngungkapinnya.
Beberapa hari kemudian gue putus dari cewek gue, walaupun putus ini
sama sekali gak ada sangkut pautnya sama masalah perasaan gue ke vira
tapi gue berasa makin kehilangan beberapa orang yang suka merhatiin gue,
yang pertama gue kehilangan vira dan kedua gue kehilangan cewek gue.
Setelah vira jadian sama temen gue, gue pun makin jauh dari vira
walaupun gue masih suka nongkrong sama mereka tapi gue rada ngasih jarak
ke vira. Gue paham lah posisi gue sekarang gak kaya dulu, gue ngelakuin
ini biar hubungan gue ke vira dan temen gue tetep harmonis.
Tiba-tiba hari selasa pas gue balik ngantor si vira bbm gue,
“cieeh sombong banget sih sama gue, mentang-mentang udah gak punya pacar
terus lagi deketin cewek sana sini, guenya dianggurin.. hahaa”
“hahahaa, bukannya sombong tapi kan gue gak enak sama harry kalo gue bbm lo nyong”
“ah elah santai aja kali, si harry aja biasa aja”
“tapi gue gak biasa vir, haha”
“eeemm iya iya, hari ini gimana di kantor, dapet rejeki anak soleh gak?”
“alhamdulillah dapet, hahaaaa”
Dan setelah percakapan itu, si vira malah ganti topik yang bikin gue kaget..
“jalan yuk”
Gila tiba-tiba dia ngajakin gue jalan, gue bingung mau nerima atau nolak
ajakannya dia, kalo gue nolak, gue jadi gak enak sama dia, tapi kalo
gue nerima, makin gak enak gue sama si aris..
Setelah lama berfikir, si vira bbm gue lagi..
“WOI KUPROY BALES JANGAN DI BACA DOANG”
“aduh vir gue bingung, gue gak enak sama harry bengaaa”
“oke ya udah”
“lo marah?”
“enggak!
Sebenernya gue nyesel nolak ajakan dia tapi mau gimana lagi, gue
takut jadi orang ketiga di hubungan mereka, dan itu terakhir kalinya gue
bbman sama si vira. akhirnya gue mulai terbiasa dengan hubungan harry
sama vira, gue mulai menjauh dan menjaga jarak. Gue mulai mencoba
melupakan perasaan gue ke vira dan sampe saat ini alhamdulillahnya gue,
vira, dan harry masih berhubungan baik. Walaupun gue sama vira jarang
ngobrol kaya dulu.
Sampai saat ini vira gak tau perasaan yang sebenarnya gue rasain ke
dia, dari awal emang gue terlalu takut untuk ngungkapinnya, dan nasi
udah menjadi bubur, cukup untuk jadi pelajaran yang berharga buat suatu
hari nanti.
Terimakasih sudah membaca cerita saya ini, selamat ber aktifitas kembali.
Cerpen Karangan: Wisnu Triatmojo
Malam ini adalah malam terakhirku berada di rumah kakek, setelah
memasukkan pakaian dan barang barang yang akan kubawa pulang ke dalam
tas ransel, aku melangkah ke luar kamar dan langsung berjalan keluar
rumah. Di bangku panjang yang ada di samping rumah saya duduk sambil
memandang langit yang terang benderang bermandikan cahaya purnama.
Sedang asyik asyiknya menikmati keindahan bulan purnama, kudengar suara
canda tawa gadis gadis desa dari arah barat, tak berapa lama melintaslah
rombongan gadis gadis itu di jalan yang ada beberapa meter dari tempat
dudukku Beberapa saat salah seorang dari mereka menatap ke arahku.
melempar senyum kemudian menunduk dan berjalan meneruskan langkahnya
bersama teman temannya.
Aku masih duduk di bangku sambil menatap ke arah rombongan gadis
gadis yang semakin jauh, seraut wajah imut dan senyum simpul gadis
berkerudung putih itu selalu menari nari di depan mataku.
Pertama kali aku bertemu gadis itu ketika aku sedang membeli sabun
mandi di warung yang ada di sebelah barat rumah kakekku seminggu yang
lalu, waktu itu warung yang menjual segala keperluan sehari hari itu
sepi tidak ada penjaganya dan aku pun memanggil dengan suara agak keras.
“Bu… bu.. bu…!” panggilku setengah berteriak, tak berapa lama
kudengar langkah kaki dari bagian dalam warung itu, dan… betapa
bergemuruh hatiku ketika melihat seorang gadis berkerudung putih yang
keluar dari ruang dalam warung itu Sudah sering aku melihat gadis cantik
tapi entah mengapa ketika aku bertemu pandang dengan gadis ini ada
getar getar aneh yang menjalar tak karuan dalam hatiku.
Wajahnya yang imut, senyum manis dipadu dengan lesung pipinya semakin
membuat aku terpana, entah sudah berapa lama kami hanya diam beradu
pandang.
“Beli apa dik” suara itu membuat kami tersadar, kulihat seorang
wanita setengah baya sudah berada di samping gadis berkerudung putih
itu, “beli sabun mandi bu” jawabku tergagap, entah mengapa mukaku terasa
begitu panas dan sekilas kulihat kedua pipi gadis itu berubah menjadi
kemerah merahan.
Sejak saat itulah kami selalu saling curi pandang ketika bertemu,
walaupun sampai saat ini kami berdua belum pernah berbicara walau hanya
sepatah kata.
“He…! Ngelamunin siapa malam malam begini nanti kesambet lho…!” kata bulik rini membuyarkan lamunanku.
“Ah bulik ini ngagetin aryo saja” kataku sambil menoleh ke arah bulik
rini yang berjalan menghampiriku Setelah duduk di sebelahku bulik rini
berkata
“Dia itu namanya shinta dari jakarta keponakan om agus yang buka
warung kelontong itu lho, dia sudah dua bulan disini sedang praktek
menjadi dokter kandungan, kalau kamu suka bisa bulik bilangin ke dia,
kelihatannya dia juga suka sama kamu atau kamu bisa buat surat untuknya
disertai sebuah hadiah, besok kamu berikan sebelum kamu pulang ke
rembang”.
“Bulik ini ngomong apa sih… apa jangan jangan bulik yang lagi kesambet ya…?” Kataku pura pura tidak tahu.
Bulik rini tersenyum memandangku, rambut panjangnya yang agak
keriting bergoyang mengombak diterpa semilir angin malam “Bulik juga
pernah muda yo… bulik tahu apa yang kamu rasakan… mumpung dia masih
sendiri jangan lama lama nanti disambar orang baru tahu rasa” kata bulik
rini, sesaat kemudian bulik rini beranjak menuju ke dalam rumah.
“Untuk saat ini biarlah cintaku dan cintamu tumbuh dan bersemi dalam
hening dan sunyinya kediaman, nanti bila saatnya tiba aku ingin cinta
kita menggema memenuhi ruang dalam dunia ini” kata batin sekaligus doaku
dalam hati.
Sejenak ku lihat bulan purnama yang bercahaya semakin terang dan
indah, seterang dan seindah hatiku yang sedang ditumbuhi bunga bunga
cinta.
Cerpen Karangan: Aryo Robeth Elmuna

